Cerita Pengungsi Afganistan yang ‘Kemah” di Depan Rudenim Jakarta

231 views
- Advertisement -

JAKARTA (KBK) – Mendung tebal berayun di di kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Meski sengatan sinar matahari terhalangi awan yang menggumpal namun hawa pengap tetap saja membekap. Tak lama kemudian gerimis mulai turun, selang 12 menit langit yang tadinya gelap berubah menjadi cerah.

Kurang lebih begitulah anomali cuaca yang dihadapi Mohammad Naser ketika menginjakan kaki di Jakarta sejak 20 hari yang lalu. Di Ibu Kota Naser tidak tinggal di dalam rumah, bersama istri dan anaknya yang masih berusia 3 tahun ia mendirikan tenda ala kadarnya di depan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), Jakarta.

“Kalau hujan kami tetap bertahan di dalam tenda ini. Sehari-hari kami hanya seperti ini,” ujar Naser, pengungsi asal Afganistan kepada KBK (22/2).

Tenda yang ditinggali Naser sangat sederhana, Naser memanfaatkan kardus dan terpal untuk atap. Sedangkan dinding sekat antar tenda terbuat dari kain. Di sisi lain Naser juga menumpuk koper dan barang bawaannya sebagi sekat. Dari pantauan KBK di lapangan setidaknya terdapat lebih dari 300 jiwa pengungsi. Ada yang dari Etiopia, Sudan dan Yaman namun mayoritas dari Afganistan.

Naser mengaku ia tidak bisa masuk ke dalam Rudenim dengan alasan sudah penuh. Meski kerap dianggap gelandangan oleh masyarakat sekitar namun Naser telah terdata sebagai pengungsi oleh UNHCR. Ditanya mau kemana, dengan lantang ia menjawab ingin membangun sebuah keluarga di Negara tujuan Australia.

“Di negara saya banyak ancaman bom, kami ingin pergi ke negara yang aman,” kata Naser sambil mengalungi sorban putih motif kotak-kotak.

Selama hidup mengemper di atas trotoar depan Rudenim, Naser mengaku semua kebutuhan hidupnya tercukupi. Bila ingin buang hajat, mandi dan mencuci pakaian ia bisa menggunakan wc umum yang letaknya tidak jauh dari Rudenim.

- Advertisement -