Pengungsi yang ‘Kemah’ di Depan Rudenim Dambakan Akses Pendidikan Anak Mereka

295 views
- Advertisement -

JAKARTA (KBK) – Ketika anak seumurannya fokus mengenyam pendidikan di sekolah formal. Tidak demikian dengan Safura Nasiri (14) di usia remaja ia harus keluar dari negaranya karena alasan keamanan.

Di temui KBK di depan Rumah Detensi Imigrasi, Kalideres, Jakarta, siang itu Safura sedang duduk di pinggir jalan Peta Selatan sambil asik menyedot minuman susu dalam kemasan. Wajahnya polos seakan tak memikirkan akan kelangsungan hidupnya. Selama di Jakarta Safura tinggal bersama lima orang anggota keluarganya. Mereka merupakan pengungsi asal Afganistan yang sudah 4 tahun tinggal di Indonesia.

“Kalau di sini kami baru 20 hari,” sahut Assadulah Sultani ayah Safura dari dalam tenda (22/2).

Di Jakarta Assadulah menempati tenda seluas 2×3 meter di atas trotoar depan Rudenim Jakarta. Di sana setidaknya terdapat puluhan tenda yang menanungi 300 an pengungsi dari berbagai negara.

Meski statusnya sebagai pengungsi yang belum jelas akan ditempatkan dimana, namun Assadulah berharap ada lembaga kemanusiaan yang peduli terhadap pendidikan, khususnya pendidikan untuk anak-anak pengungsi seperti Safura.

“Sewaktu kami masih di Ciawi, Bogor ada sekolah yang mau mengajari anak kami. Tapi di sini tidak ada,” kata Ayah tiga orang anak itu.

Aqil pengungsi asal Etiopia juga berkata demikian, dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata ia menyampaikan bahwa anaknya yang masih berusia 7 tahun juga memerlukan edukasi sepeti saat ia tinggal di Bogo

“Di sana anak saya sekolah, tapi karena masa tinggal habis kami harus keluar dan kesini karena kami tidak tahu harus kemana,” ujar Aqil sambil membereskan tikar yang melipat karena hembusan angin dari kendaraan yang lalu-lalang.

Dari pantauan KBK di lapangan, setidaknya banyak pengungsi berusia 5 – 16 tahun atau usia sekolah yang perlu mendapatkan edukasi. Selama hidup di atas trotoar, sehari-hari mereka hanya menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di pinggir jalan sambil berdiskusi. Tak sedikit juga dari mereka yang membantu orang tua untuk merapihkan tenda.

- Advertisement -