MBANGUN CANDI GROJOGANSEWU

361 views
Prabu Baladewa menakut-nakuti Patih Sengkuni dengan senjata Nenggala.
- Advertisement -

          BAGI para elit politik di negeri Ngastina, sesungguhnya Prabu Baladewa sering dalam posisi “musuh dalam selimut”. Soalnya dia sering mengoposisi berbagai kebijakan Prabu Duryudana. Apa lagi yang berkaitan dengan renstra (rencana strategis) untuk membinasakan keluarga Pendawa, Prabu Baladewa sering membocorkannya kepada pihak terkait. Maklum, meski wilayah teritorial negeri Mandura berada dalam kawasan Ngastina, tapi jiwanya dia lebih pro pada Ngamarta negerinya keluarga Pandawa.

Karenanya Prabu Baladewa sering dikerubuti pers, terutama wartawan yang seharian tak dapat berita. Dari mulut raja Mandura ini bisa dikorek informasi apa saja, yang sering tak berbanding lurus dengan kebijakan negeri Ngastina. Bahkan ketika heboh MCA yang diplesetkan jadi Mandura Cyber Army, dia juga tak protes. Katanya, itu kan bagian dari demokrasi.

“Difitnah seperti itu Anda masih tenang saja. Tapi giliran keluarga Pendawa yang difitnah, kok mencak-mencak?” kata wartawan muda dari media online.

“Memfitnah Pendawa, itu sama saja pembunuhan karakter. Itu melecehkan leluhur kami. Kamu nggak pernah nonton wayang, ya?” sergah Prabu Baladewa, dan wartawan muda itu mengangguk. Terkesan asal tanya, karena tak menguasai masalah.

Baladewa pro pada Pendawa adalah sebuah keniscayaan. Adiknya yang bernama Sembadra, jadi “kanca ngandhap” (istri) Harjuna. Sedangkan Dewi Kunthi ibunya para Pendawa Lima, adalah juga adik daripada Prabu Basudewa ayahanda Prabu Baladewa. Karena itulah jika Baladewa jiwanya lebih mengakar pada Pendawa adalah sebuah keniscayaan.

“Bapa pandita Durna dan paman Sengkuni, pada pisowanan kali ini kenapa Prabu Baladewa tidak hadir? Ke mana beliau?” kata Prabu Duryudana dalam sebuah pisowanan agung.

“Nggak tahu juga anak prabu. Tapi kok absennya ada, ya?” jawab Sengkuni.

- Advertisement -