Antara Bibit, Bobot Dan Bebed

93 views
Memilih pasangan hidup karena faktor kecantikan dan harta boleh saja, tapi faktor agama jauh lebih penting.
- Advertisement -

ANAK-ANAK mantan presiden seperti Tommy Soeharto dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), banyak yang mengelu-elukan untuk menjadi Capres 2019. Mereka memilih mereka bukan karena prestasi, tapi semata-mata karena putra mantan presiden yang dinilai sukses. Orang Indonesia umumnya dan orang Jawa khususnya, memang suka menilai seseorang berdasarkan keturunan, yang istilah populernya disebut: bibit, bobot dan bebed.

Ada peribahasa lama mengatakan: buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Maknanya adalah, kelakuan atau kegemaran orangtua biasanya akan menurun pada anak. Itu artinya bahwa orangtua lewat gaya mendidik putra-putrinya, berhasil menurunkan kearifan dirinya buat anak  keturunannya.

Untuk hal-hal yang positif itu memang sangat bagus, karena bisa memberikan sumbangsih dan kontribusi bagi masarakat dunia. Tapi andaikan bapaknya tukang kawin, lalu anak-anaknya jadi tukang kawin pula, pasti dicemooh publik sekitarnya. Itu sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Maka bagi orang bijak hanya bisa berdoa, “Anak turunku aja ana sing tiru (anak keturunan saya jangan meniru).”

Bapaknya koruptor, anaknya koruptor juga, baru-baru ini juga terjadi, berkat politik dinasti yang kental. Adalah Walikota Kendari, Wali Kota Kendari, Adriatma Dwi Putra, dan ayahnya, Asrun mantan Walikota Kendari yang kini sedang berjuang untuk menjadi Gubernur Sulawesi Tenggara. Mereka ditangkap gara-gara menerima suap dalam proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Kendari tahun 2017-2018.

Tentulah, ayah cap apapun takkan mengajari anak-anaknya korupsi atau terima suap. Tapi gara-gara ingin memperoleh jabatan lebih tinggi, anak dan ayah bau membahu  memperjuangkan jabatan itu dengan cara yang salah. Walhasil, bapak gagal maju ikut Pilgub, anak juga tak bisa jadi walikota lagi, justru kini bapak dan anak bakal meringkuk bersama-sama sebagai napi.

- Advertisement -