Sudah 511.000 Korban Tewas di Suriah

236 views
Konflik Suriah berawal dari gerakan massa menumbangkan rezim al-Assad pada Maret 2015, sudah menelan korban lebih setengah juta orang, mayoritas warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak.
- Advertisement -

PERANG Suriah berawal dari gelombang protes massa atas rezim Bashar al-Assad, Maret 2011 meluas menjadi perang proksi dan perebutan hegemoni kawasan, belum ada tanda-tanda berakhir walau sudah menewaskan lebih setengah juta korban.

Lembaga Pemantauan HAM Suriah berbasis di London, SOHR menyatakan (12/3), dari data yang dihimpun dari jaringan mereka di Suriah, dari 511.000 korban tewas, 350.000 berhasil diindentifikasi, sekitar 434.350 korban (85 persen) warga sipil, termasuk 19.800 anak-anak dan 12.500 perempuan.

Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef) bahkan menyebutkan, anak-anak semakin rentan akibat serangan udara oleh rezim al-Assad dan Rusia serta akibat kekerasan ektrim tanpa pandang bulu, tercermin dari lonjakan sampai 50 persen korban anak-anak pada 2017 dibandingkan 2016.

Bahkan badan PBB itu memperkirakan, kondisi semakin buruk saat pasukan Suriah dan pesawat-pesawat tempur Rusia menggempur propinsi Goutha timur di pingiran ibukota, Damaskus Februari lalu. Dari sekitar 1.000 korban warga sipil yang tewas, 200 diantaranya atau seperlimanya perempuan dan anak-anak.

Sementara Direktur Regional Unicef Geert Cappelaere menyebutkan, sekitar 3,3 juta anak Suriah terdampak langsung atau tidak dalam konflik berkepanjangan itu. “Kondisi mereka terabaikan sehingga semakin rentan di tengah konflik, “ ujarnya.

Pasca melemahnya kekuatan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang berupaya mendirikan negara khilafah pada 2015 sehingga dilawan bersama-sama, malah terjadi kembali eskalasi konflik antarpihak yang bertikai di Suriah.

Saat ini, satuan-satuan Turki yang tergabung dalam Operasi Ranting Zaitun didukung tank-tank dan pesawat tempur hampir menaklukkan milisi Pasukan Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di wilayah Afrin, Suriah Utara.

Turki melakukan inisiatif penyerangan terhadap YPG untuk mencegah kelompok minoritas yang bermukim di sepanjang wilayah perbatasannya dengan Suriah itu membentuk Negara Kurdi yang bakal mengancam kedaulatannya.

- Advertisement -