Melongok Kampung Marjinal Sri Rahayu : “Monggo. Mampir, Mas!”

550 views
Ambulans LKC Dompet Dhuafa mengantarkan warga Sri Rahayu sampai depan gang. Ahad (25/3/2018). Foto: Maifil/KBK
- Advertisement -

PURWOKERTO – Ibu-ibu dan anak-anak bergegas turun dari ambulans Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) Purwokerto, Jawa Tengah. Mereka baru saja mengikuti pemeriksaan dini kanker mulut rahim (serviks) dan payudara (Mamae) di Gerai Sehat LKC Dompet Dhuafa. Mereka dijemput antar pakai ambulans tersebut.

Ahad Sore, (25/3/2018), satu per satu ibu-ibu itu berlalu menuju rumah masing-masing di Kampung Sri Rahayu, Purwokerto, Jawa Tengah.

Kampung itu terlihat agak padat, dan hanya dibatasi oleh gang sempit yang hanya dapat dilewati dengan motor. Bentuk rumah di sini pun beragam; ada yang sudah permanen, semi permanen, dan bahkan ada pula yang seadanya dibangun dari kayu-kayu bekas.

Kampung Sri Rahayu memang terkenal sebagai kampung kelompok marginal di Purwokerto, di sinilah para pengemis, waria dan wanita pekerja seks bermarkas. Bahkan media lokal, Radar Banyumas menulis: “Sri Rahayu, Kampung Kumuh di Tengah Kota”.

Benar, ketika kita melewati gang-gang di Kampung Sri Rahayu itu, kita akan  bertemu dengan penduduk yang sangat ramah, sesuai adat ketimuran, bahkan lebih ramah lagi. “Monggo. Mampir, Mas!”

Namun yang tidak mengenakan hati, mereka yang mengajak mampir itu adalah ibu-ibu atau waria yang berpakaian minim. Agaknya di balik keramahan ketimuran itu tidak sejalan dengan rasa malu yang juga jadi khas masyarakat timur.

Ya, karena itulah modal mereka sesungguhnya. Para ibu-ibu dan waria di Kampung Sri Rahayu bertingkah seperti itu karena berusaha menggaet tamu yang datang, dengan harapan lembaran rupiah bisa berpindah dari saku tamu ke mereka melalui layanan yang menyenangkan.

Anehnya mereka tidak peduli dengan suami dan anak-anak mereka yang masih kecil yang ada di sekitar mereka. Mungkin, ini sudah menjadi rahasia umum di Purwokerto, kehidupan mereka yang sudah begitu, jadi yang sudah menjadi normal adanya. Mungkin tidak ada lagi kecemburuan suami, karena mereka menilai isterinya sedang berkerja dan menghasilkan uang untuk keluarga mereka.

- Advertisement -