SENGKUNI TUNDUNG

581 views
Prabu Baladewa marah; bersama PatihSengkuni bersepakat menghajat Ontowasesa.
- Advertisement -

PERANG Baratayuda Serentak tinggal 3 bulan lagi, tepatnya bulan Juni 2018 2014. Panitia sudah terbentuk, baik itu kubu Ngastina maupun kubu Pandawa. Sejumlah perusahaan yang menjadi sponsor, sudah mulai siap pasang panduk dan baliho di seputar alun-alun Tegal Kurusetra. Paranormal yang ahli bikin tahan bacokan juga siap mau buka stand. Bahkan pabrik air mineral dengan lantang edarkan minuman kemasan bertuliskan: Qamua, minuman resmi Perang Baratayuda Serentak.

Berbeda dengan Pandawa, kubu Ngastina justru pusing belum siapnya personal senapati yang akan maju ke medan laga. Anggota setgab koalisi macam Adipati Karno, Prabu Salyo, Prabu Baladewa, Resi Bisma dan Pendita Durna, memang kapan saja sudah siap mendukung terjadinya Perang Baratayuda. Tapi sebagai senapati elit, mereka diturunkan kan bila situasi sangat mendesak. Dalam kondisi normal, senapati yang maju cukup yang asli dari keluarga Kurawa seratus.

“Saya membutuhkan adinda Bogadenta. Tapi sejak isiden “Trajon” 20 tahun lalu, dia menghilang tanpa berita.” Keluh Prabu Duryudana.

“Wah kalau itu, terus terang saya ndak tahu.” Jawab Patih Sengkuni yang merasa tersindir.

Para pejabat elit yang hadir dalam pertemuan itu, semua memandang tajam pada patih Sengkuni. Baik Pendita Durna, Prabu Baladewa, dan siapa saja yang hadir di situ, semua tahu bahwa “Trajon” tersebut sebagai aktor intelektualnya tak lain tak bukan adalah Patih Sengkuni. Karena dialah yang punya gagasan kelewat berani, yang katanya demi ketahanan nasional negeri Ngastina di masa depan.

Kata Sengkuni kala itu, untuk menyelesaikan pertikaian Pendawa – Kurawa soal negeri Ngastina, cukup ditempuh dengan cara timbang badan. Siapa yang lebih berat secara pisik, dialah yang berhak memiliki negeri Ngastina secara permanen. Logika Patih Sengkuni: Kurawa yang berjumlah 100, masak kalah berat dengan Pendawa yang hanya berjumlah lima orang.

- Advertisement -