BAMBANG SUDAMALA

318 views
Betari Durga tertawa lepas, karema Dewi Kunti siap menyerahkan Sadewa sebagai sarat penyembuhan kerusakan wajahnya.
- Advertisement -

 MENTANG-mentang jadi istri pejabat penting, Dewi Uma suka mencampuri urusan suami di kantor. Tentu saja Betara Guru tidak suka sikap yang demikian. Sebab salah-salah bisa merusak kariernya di kahyangan. Bukan itu saja; gara-gara ulah Dewi Uma yang over acting, bisa saja kahyangan Jonggring Salaka bubar tepat di tahun 2030.

Sebagai hukuman, Dewi Uma diusir dari kahyangan real estatenya kaum dewa. Bentuk­ wayangnya diubah dari wanita cantik jelita menjadi raksasa perempuan bernama Betari Durga. Kini dia tinggal di rumah tapak kawasan Pasetran Gandamayit yang diperolehnya dengan DP nol rupiah.

“Kangmas kok tega banget sama istri, sih. Usir istri dari kahyangan boleh saja, tapi mbok ya ditempatkan di Pondok Indah, begitu. Ini sih bener-bener nyiksa badan.” Protes Dewi Uma selaku edisi baru.

“Dinda, semuanya ini ada batasnya. Nanti yang dapat membebaskanmu dari penderitaan ini hanyalah Raden Sadewa, wuragil (bontot) dari Pendawa,” ujar Betara Guru sang suami, menghibur.

Betapapun Dewi Uma meratap dan merintih, SK Betara Guru itu tak bisa diubah lagi. Dia harus tergusur dari kahyangan Jonggring Salaka. Dengan bentuknya yang baru ini, Betari Durga tidak secantik Syahrini lagi, tapi persis bekantan kecebur got. Rambut panjang kusut, gigi besar dan kuning tak mengenal pepsodent. Karena selalu nyengenges itu pula, sulit dibedakan antara tertawa dan cemberutnya Betari Durga.

Untuk menemani Betari Durga menjalani hukuman di hutan Pasetran Gandamayit, penguasa dewa di kahyangan menugaskan 2 dewa yakni Citragada dan Citrasena. Sebe­narnya kedua dewa ini di kahyangan masih menjalani masa percobaan 3 bulan. Tapi karena terkena OTT, langsung dimutasi ke hutan, dengan wajah yang diubah pula menjadi raksasa. Keduanya pun berganti nama menjadi Ditya Kalantaka dan Ditya Kalanjana.

- Advertisement -