Trump, Penentu Kesepakatan Nuklir Iran

77 views
Salah satu pusat reaktor milik Iran
- Advertisement -

KELANJUTAN kesepakatan program nuklir Iran masih diambang ketidakpastian akibat pernyataann Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan hengkang jika sejumlah persyaratan baru ditolak Iran.

Sedangkan negara mitra AS di Eropa masih berupaya membujuk Trump agar tetap berada dalam kesepakatan nuklir Iran yang sebelumnya ditandatangani oleh kelima anggota DK PBB (AS, Inggeris, Perancis, Rusia dn China) plus Jerman pada 2015.

Trump bersikukuh agar kesepakatan 2015 yang dinegosiasikan selama 12 tahun itu dirombak, memuat persyaratan terkait pembatasan pengembangan nuklir Iran melalui inspeksi berkala dan ketat oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) sebagai imbalan bagi pencabutan sanksi ekonomi atas negara itu.

Selain itu, Trump juga menghendaki dimasukkannya pasal terkait larangan pengembangan rudal balistik, pemberian akses tak terbatas bagi IAEA atas seluruh fasilitas militer Iran serta agar kesepakatan yang akan dibuat nanti berlaku selamanya (saat ini hanya sampai 2030).

Jika AS menarik diri dari kesepakatan, tentu saja sanksi ekonomi terhadap Iran akan kembali dikenakan, sebaliknya Iran mengancam, juga akan keluar dan segera meneruskan program pengayaan uranium (untuk pembuatan senjata nuklir-red).

Sejumlah sumber di pihak AS sendiri dan Eropa agaknya skeptis, upaya untuk membujuk Trump akan membuahkan hasil , walau mereka masih terus mengupayakannya dalam waktu sepekan yang tersisa. Presiden Trump memberikan batas waktu bagi Iran, sebelum pihaknya memutuskan pada 12 Mei.

Hingga Sabtu kemarin, sejumlah narasumber di Gedung Putih menyebutkan, Trump masih menunjukkan isyarat kuat untuk keluar dari kesepakatan, walau tidak bisa diduga, ia akan berubah fikiran.

“Kami masih mencari formula yang bisa memenuhi harapan AS, tetapi tidak bertentangan dengan kesepakatan, “ ujar seorang diplomat senior Eropa.

- Advertisement -