Bercermin dari Kampanye Pemilu Damai Malaysia

143 views
Pimpinan koalisi pemerintah Barisan Nasional (BN) yang ditulangpunggungi UMNO pimpinan PM petahana Najib Razak (kanan) bersaing dengan kubu oposisi Pakatan Harapan pimpinan mantan PM Mahathir Mohammad dalam Pemilu Malaysia 9 Mei. Elite dan politisi Indonesia perlu belajar dari Malaysia yang relatif bebas dari kampanye politik identitas, hoaks dan ujaran kebencian, apalagi SARA.
- Advertisement -

TIDAK usah jauh-jauh, pemimpin dan politisi Indonesia perlu belajar dari jalannya kampanye Pemilu di negara jiran, Malaysia yang aman dan damai, relatif bebas dari muatan hoaks atau ujaran kebencian, apalagi isu SARA yang dapat memecah-belah persatuan.

Antusiasme warga berpartisipasi dalam Pemilu tercermin dari gerakan Pulang Mengundi untuk mengajak warga perantau menggunakan hak pilihnya di tempat mereka terdaftar, bahkan ongkos transportasi pulang kampung juga disediakan.

Masa kampanye,28 April – 8 Mei diwarnai upaya memikat pemilih dan mengritik kebijakan lawan. Dari kubu koalisi petahana, Barisan Nasional (BN) dengan pengusung utamanya, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) dipimpin PM Najib Razak dan kubu opisisi, Pakatan Harapan dipimpin mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad.

Pemungutan suara pada Rabu, 9 Mei, diperkirakan diikuti 14,3 juta dari 14,9 juta pemilih terdaftar, sedangkan 299.000 pemilih lainnya akan memberi suara lewat pos, sementara sekitar 119.000 polisi dan 160.000 tentara serta keluarga mereka melakukan pencoblosan suara secara terpisah lebih dulu, Sabtu (2/5).

Walau berbeda dengan di Indonesia dimana TNI dan polisi tidak ikut dalam pemungutan suara, sejauh ini tidak terdengar isu adanya permainan, intimidasi atau perilaku menyimpang dari aturan pemilu lainnya yang dilakukan aparat negara negeri jiran itu .

Saling “serang” dalam kampanye juga cukup sengit, misalnya calon petahana, PM Najib Razak terhadap Mokhzani Mahathir, putera mantan PM Mahathir Mohammad terkait komentarnya tentang program bantuan langsung tunai oleh pemerintah (Bantuan Rakyat 1 Malaysia –BRIM).

“Mokhzani sudah kaya, tentu tak butuh BRIM, tapi jangan mengejek warga penerima. Saya tau rekam jejak perusahaan Mokhzani saat ayahnya berkuasa, “ kata Najib.

Najib juga menantang tiga menteri era kabinet Mahathir, yakni Rafidah Aziz, Daim Zainuddin dan Rais Yatim untuk mengungkap kekayaan mereka menyusul kecaman mereka terhadap koalisi Barisan Nasional yang dipimpinnya.

- Advertisement -