ABIYASA MURCA

169 views
Lurah Semar melabrak Begawan Abiyasa abal-abal, yang ternyata penjelmaan Betari Durga
- Advertisement -

NEGERI Ngamarta kini sedang ditimpa musibah. Tiba-tiba dolar menyentuh angka Rp 14.000,- Negeri yang hendak tinggal landas itu mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, gara-gara semua harga mahal. Ribuan warga tiap hari berseliweran jadi tukang ojek dan taksi online. Kaum oposisi juga tebar spanduk dan poster dengan motto: #2018 ganti raja! Tukang sablon dan print digital untung gede.

Prabu Yudistira kemudian menggelar sidang kerajaan bersama keempat adiknya, Bima, Harjuna, Nakula dan Sadewa. Hasilnya mereka memutuskan untuk menugaskan Gatutkaca dan Abimanyu ke pertapaan Begawan Abiyasa di Candi Saptaharga, mohon petunjuk bagaimana caranya menangkal musibah berkepanjangan itu. Sekaligus menangkal kaum oposisi yang waton sulaya.

“Biaya perjalanan dinas sudah disiapkan belum, kanjeng rama?” Gatutkaca memberanikan diri bertanya.

“Kamu kan bisa terbang, kenapa minta anggaran? Itung-itung berhemat demi negara.” Jawab Werkudara sinis.

Karena pejabat top di Jodipati itu terus ngeloyor pergi begitu saja, Gatutkaca dan Abimanyu berangkat sambil menggerutu. Dengan merogoh kocek sendiri mereka menuju Candi Saptaharga tempat tinggal para­normal Bagawan Abiyasa. Kali ini terpaksa jalan darat saja, sebab baju Antrakesuma yang bisa membuatnya terbang sedang dijadikan jaminan ke Pegadaian.

Sungguh luar biasa. Pertapaan Candi Saptaharga yang biasanya kumuh dan kumal, kini nampak asri seperti mau ada kunjungan pejabat saja. Rupanya baru saja ada pesta ulang tahun. Begawan Abiyasa merayakan ultahnya yang ke-92. Dia memang seangkatan dengan PM Malaysia Mahathir Mohammad.

“Percayalah anak cucuku, negeri Ngamarta baru akan kembali adil makmur dan bebas utang luar negeri, asalkan ditumbali   (dikorbankan) siraman darah Ki Lurah Semar,” jawab Bagawan Abiyasa to the point, padahal Gatutkaca dan Abimanyu ngomong juga belum.

- Advertisement -