Dunia Menanti Hasil KTT Trump dan Kim

38 views
Mata dunia terarah pada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un di P. Santosa, Singapura, Selasa ini (12/6)
- Advertisement -

MATA dunia terarah pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Hotel Capella, resor wisata ekslusif Pulau Santosa, Singapura, Selasa pagi ini (12/6) yang diharapkan menjadi tonggak sejarah mengawali proses perdamaian di Semenanjung Korea.

Apakah pertemuan benar-benar jadi digelar, jika jadi, amankah dari kemungkinan aksi sabotase dan kemudian hasilnya? Sekedar sensasi atau menelurkan kesepakatan kongkret antara kedua belah pihak yang berseteru untuk dijadikan pijakan bagi proses perdamaian selanjutnya?. Denuklirisasi merupakan pokok bahasan dalam tatap muka Trump dan Kim..

Pertanyaan semacam itu wajar saja, karena rencana pertemuan itu sendiri, timbul-tenggelam, bahkan nyaris terhenti ketika Presiden Trump secara sepihak 24 Mei lalu membatalkannya dengan alasan, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan Presiden Kim dinilai menciptakan situasi tidak kondusif untuk memulai perundingan.

Kedua pihak sebelumnya terlibat saling ancam dan hujat serta mencitrakan suasana permusuhan yang memicu peperangan. AS dan mitranya, Korsel, secara rutin melakukan lathan perang-perangan yang dikecam Korut. Sebaliknya Korut terus melakukan uji coba rudal balistik dan senjata nuklir yang mengancam Korsel, Jepang bahkan konon mampu menjangkau kota-kota di AS.

Propaganda dan saling hujat mereda setelah tim olahraga dan kesenian Korut ambil bagian dalam Olimpiade musim dingin di PyeongChang, Korsel, Februari lalu berlanjut dengan pertemuan antara kedua pemimpin negara yang berseteru, Presiden Korsel Mon Jae-in dan Presiden Kim di wilayah demarkasi di Panmunjom.

Korut dan Korsel sendiri dalam status perang hingga kini sejak Perang Korea pada 1951 – 1953 yang berkecamuk akibat invasi mendadak Korut didukung China dan Uni Soviet ke wilayah Korsel yang kemudian berhasil dipukul mundur oleh pasukan koalisi pimpinan AS dan negara-negara Barat yang memperoleh mandat dari PBB.

Yang paling mendambakan perdamaian tentu saja rakyat Korut yang hidup dalam kesederhanaan akibat anggaran negara terkuras untuk membiayai berkali-kali uji coba rudal balistik dan nuklir ketimbang pembangunan ekonomi dan terkucil akibat sanksi embargo yang dikenakan AS dan sejumlah negara Barat lainnya.

- Advertisement -