GADA RUJAKPOLO MURCA

288 views
Pendita Durna - Patih Sengkuni sepakat menggelar lomba berburu. Hadiahnya bukan lagi sepeda tapi mobil dan rumah tapak.
- Advertisement -

SETELAH harga beras rajalele di pasaran wayang luar kotak anjlok sampai Rp 850.000,- perkwintal, kerajaan Gilingwesi benar-benar dilanda resesi ekonomi. Maklum beras rajalele merupakan penghasilan dan makanan pokok dunia wayang. Pengencangan ikat pinggang dilakukan di mana-mana. Gaji pegawai negeri diturunkan 25 persen, kendaraan dinas pejabat tinggi juga diganti. Prabu Rajapustaka yang biasanya naik turun Baby Benz 300 E, kini cuma pakai Toyota Kijang. Patih Gadamustika dan Pecatanda pun harus puas pakai Dihatsu Sigra untuk sowanan ke kerajaan.

“Kita harus beri contoh hidup prihatin,” begitu kata Prabu Rajapustaka yang tinggal di Jalan Balai Pustaka, Rawamangun itu.

“Prihatin sih prihatin, tapi pejabat kok naik Ostin,” keluh patih Gadamustika di luar forum resmi.

Sementara Prabu Rajapustaka dan segenap hulubalangnya berusaha keras perbaiki perekonomian negara, tengah malam  dia  bermimpi  bahwa  kerajaan  Gilingwesi   akan makmur apabila tersiram darah Pendita Durna dan Patih Sengkuni,   tokoh-tokoh penting dari Ngastina. Tanpa tumbal    (korban) semacam itu,  kesulitan ekonomi akan tetap berkepanjangan meskipun penggalakan pajak di berbagai sektor dilakukan (tax amnesty).

“Hidup atau mati, Pandita Durna dan Patih Sengkuni harus diekstradisi. Cuma itu persyaratan agar Gilingwesi bisa tinggal gedebog (landasan kaum wayang)…!” perintah Prabu Rajapustaka kepada kedua patihnya.

“Setuju-setuju. Mereka memang wayang paling nyinyir sedunia, matiin saja biar aman.” Tambah patih Pecatanda.

Patih Pecatanda dan Gadamustika segera googling di internet, mencari tahu lebih detil kebiasaan Durna – Sengkuni itu. Ternyata, setiap pertengahan Juni, kedua tokoh berbahaya itu selalu menggelar lomba berburu di hutan.

Dengan ditemani Tumenggung Nagakuning, patih Pecatanda – Gadamustika berangkat ke sasaran. Mereka memang ahli terbang solo. Hanya modal sampur (selendang) yang dikepak-kepakkan, keduanya berhasil melesat ke angkasa rnenuju Ngastina. Sikonnya tepat sekali, kalender waktu di Giling­wesi memang menunjuk pada pertengahan bulan Juni 2018.

- Advertisement -