DD 25 TAHUN : Menjawab Panggilan Zaman

35 views
- Advertisement -

Waktu cepat berlalu. Seolah-olah terbang. Dompet Dhuafa (DD), 2 Juli 2018 genap berusia 25 tahun dalam membentang kebaikan, melayani sesama terutama kaum dhuafa.

Berkat kepercayaan publik (public trust) yang terus berkembang, banyak yang telah dicapai, tetapi lebih banyak lagi yang ingin digapai. Setiap jaman, mempunyai tantangan dan kesempatan sendiri.

Demikian pula bentangan waktu 25 tahun ke depan, 2018 -2043. Kini, ditengarai sebagai era milineal, serba digital, serba cepat, cermat dan tepat. Era informasi telah berganti menjadi era reputasi.

Prestasi atau kinerja lebih dituntut dan efisiensi sudah menjadi suatu keniscayaan. Agar tidak terjebak dalam stagnasi atau kemandekan, orang harus melakukan prediksi atau langkah antisipasi.

Modal terbesar DD untuk menjawab kepercayaan publik adalah SDM (sumber daya manusia) yang mumpuni secara profesional, berlandaskan iman atau spiritualitas yang handal. Itu perlu dipersiapkan melalui pendidikan, pelatihan, diklat terus menerus. Untuk membentuk budaya kerja dan etos kerja yang sesuai.

Budaya kerja yang diperlukan adalah : jujur, disiplin, santun, bekerja keras, cerdas dan ikhlas serta bertanggungjawab. Etos kerja yang perlu diamalkan adalah : cepat, cermat, tepat , hemat, bermanfaat dan bermartabat. Ini berlaku untuk seluruh SDM, mulai dari pimpinan tertinggi sampai pelaksana terbawah. Budaya kerja dan etos kerja adalah masalah mindsetting (pola pikir).

Sesuai dengan tuntutan zaman terutama demi efisiensi, SDM DD perlu pelatihan multi tasking atau memiliki multi talenta/keterampilan, agar dapat melakukan berbagai tugas.

Bentuk korporasi atau lembaga usaha adalah tuntutan zaman, bagi setiap lembaga yang semula bersifat sosial sekalipun, untuk tetap eksis. Sejalan dengan tuntutan zaman itu, DD berupaya mengembangkan diri menjadi lembaga pemberdayaan yang menggabungkan ciri-ciri korporasi dan filantropis.

Untuk itu, SDM DD harus dilatih prophethic socio-technopreneurship (kewirausahawanan yang menggunakan teknologi canggih atau digital, berjiwa sosial dan meneladani sifat mulia Rasulullah (kenabian). Setiap SDM DD diharapkan memiliki jiwa wirausaha dalam arti, harus mampu menghitung rasio laba dan rugi agar bisa mandiri atau berdaya dengan kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Bukan untung atau laba (profit) yang dikejar, tapi manfaat (benefit) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan sesama.

Dengan berbagai upaya ini DD mengokohkan jatidirinya sebagai sebuah lembaga filantropi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (welas asih atau kasih sayang) dan usaha sosial profetik.

TERUS BELAJAR

Ada dua kata kunci dalam risalah ini, yakni belajar dan mencintai. Apakah benar setelah eksis selama dua puluh lima tahun, Dompet Dhuafa atau DD masih perlu belajar. Jawabnya pasti: ya. DD atau siapa pun harus belajar sepanjang hayat agar tetap eksis sesuai tuntutan jaman. Apakah setelah dengan berbagai cara dan upaya melayani kaum miskin selama seperempat abad, DD masih harus belajar mencintai kaum dhuafa? Jawabnya lagi-lagi pasti: ya. Alasannya tiada kata yang lebih indah untuk diucapkan, didengar, ditulis dan dibaca, daripada cinta. Bersamaan dengan itu pula, tiada sesuatu yang lebih pelik daripada mewujudkan cinta sesuai yang diharapkan oleh kedua belah pihak: yang mencintai dan yang dicintai.

Berurusan dengan kaum miskin memerlukan kesabaran, keikhlasan dan kecintaan khusus. Karena kondisi sosial ekonomi, mereka bisa lebih mudah tersinggung, marah, “mutung” atau patah semangat. Oleh karena itu, para pelaksana tugas DD perlu terus belajar untuk menyesuaikan diri agar mampu mencintai kaum dhuafa melalui berbagai upaya-upaya dengan cepat, akurat, tepat, hemat, bermanfaat, bermartabat dan selamat dunia-akhirat.

Sebagai lembaga Dompet Dhuafa memang dirancang sebagai organisasi pembelajaran (a learning organization). Struktur organisasi DD sejak kelahirannya 2 Juli 1993 secara terus menerus mengalami perubahan dengan niat untuk menyesuaikan diri dengan semangat dan tuntutan jaman, tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai lembaga pemberdayaan untuk kaum dhuafa. Struktur organisasi terus berubah menuju perbaikan, demikian pula nomen clature dan personalia yang mengawakinya.

Alhamdulillah, sejak dideklarasikan 25 tahun lalu, perubahan dan penyesuaian struktur organisasi DD– dengan segala trials and errors-terbukti berdampak positif. Ini bisa dilihat dari peningkatan jumlah dana yang dikumpulkan dan disalurkan, jenis pelayanan, jumlah muzaki dan mustahik, cakupan wilayah pelayanan, jumlah SDM, yang meliputi relawan dan karyawan/amil serta asset DD. Dari tahun ke tahun, angka-angka menunjukkan kenaikan secara terus menerus. DD berkat ridha Allah selalu mengalami pasang naik dalam capaian yang kasat mata, semoga demikian pula manfaat yang dirasakan kaum dhuafa dan rahmat Allah yang melimpahi para muzaki, donatur dan para mitra kerja, amien.

Sebagai organisasi pembelajaran, DD telah menjadi tempat belajar banyak pihak, baik sebagai candradimuka awal (basic training ground) bagi amil pemula dan pendidikan lanjutan untuk awak DD sendiri dan lembaga sejenis serta lembaga pembanding dan pusat kajian bagi pihak luar. Alhamdulillah, menurut sejumlah testimoni, DD telah menginspirasi lahirnya lembaga sejenis dan memperbaiki kinerja lembaga-lembaga sejenis yang sudah ada.

Sebaliknya, sebagai pembelajar sepanjang hayat, awak DD jugabelajar dan menimba inspirasi dari berbagai pihak lain. Sebagai makhluk sosial, kita memang saling belajar atau melakukan proses belajar bersama.

TUGAS PROFETIK

Memegang amanah sebagai pelaksana tugas (Peltu) DD pada dasarnya adalah mengemban tugas dan tanggungjawab profetik atau kerasulan/kenabian. Sebagai umat Islam, pengikut Rasulullah Muhammad SAW, kami dalam menjalankan tugas berusaha sebatas kemampuan yang ada meneladani empat akhlak mulia Beliau, yakni sidiq, tabligh, amanah dan fatanah.

Mengikuti teladan Rasulullah, semua tugas kami coba niatkan sebagai ibadah kepada Allah. Artinya, dengan berbekal kemampuan profesional kami mencoba melakukan tugas dengan keikhlasan, sukarela dan sukacita untuk menolong sesama dengan dan karena cinta sebagai ibadah kepada Allah, Sang Maha Pecinta untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Tentu, sesuai ketentuan yang berlaku, para Peltu mendapatkan imbalan yang wajar atas jasa yang diberikan. Tetapi, tujuan utama para amilin bukanlah mencari upah semata, melainkan rahmat Allah. Sekali lagi, di sini kami menyatakan ingin belajar dan terus belajar untuk dapat mencintai kaum dhuafa dengan sepenuh hati, keikhlasan, kesukarelaan, kesukacitaan dan kecintaan. Kami mohon maaf atas segala kekurangan dalam pelayanan kami. Dan, karena itulah kami perlu terus belajar untuk mencintai.

Capaian DD selama ini, kami yakini, bukan semata karena kemampuan kami, melainkan berkat rahmat Allah yang mewujud dalam kepercayaan publik (muzaki dan mustahik) dan mitra kerja atas kinerja kami. Atas segala dukungan dan kepercayaan para muzaki, mustahik, mitra kerja dan para Peltu, saya mengucapkan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya, semoga Allah membalas amal ibadah anda semua, amien. [Inisiator, Pendiri, Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa]

- Advertisement -