Cerita Tunanetra Menyambung Hidup Sebagai Pemecah Batu

36 views
- Advertisement -

JAKARTA – Desingan pahat yang beradu dengan batu terdengar nyaring. Tiap desingannya selalu diikuti dengan debu yang menyeruak. Bila debu terlampau banyak, Sarono segera menyiramnya dengan air yang ia bawa dari rumah menggunakan jeriken.

Kendati Sarono tak dapat melihat lagi sejak tahun 1995 namun ia tak patah arang menyambung hidup. Menjadi pemecah batu bermula ketika Sarono tersandung batu saat pulang berdagang pisang. Sarono lalu membungkuk sambil memegang batu tersebut dan berdoa.

“Ya Allah, terima kasih ya Allah, semoga Engkau memberikan rezeki dari sini (batu-batu). Mudah-mudahan dari darah kotor ini keluar mengurangi dosa saya,” kenang Rono seperti dilansir Liputan6.com (5/7).

Berangkat dari kejadian tersebut, Rono lalu pindah haluan menjadi pemecah batu. Batu-batu itu pun ia dapat secara cuma-cuma dari toko material di dekat rumahnya di bilangan Cipinang Jaya, Jakarta Timur.

Bebatuan yang dipecahkan Sarono hingga menjadi butir-butiran, kemudian disaring, hingga menjadi pasir halus. Pasir tersebut lantas dijual kepada siapa pun yang mau membelinya.

Rono tidak mematok harga untuk pasir tersebut. Menurut dia, asal sama-sama ikhlas dan senang, maka sudah cukup bagi dirinya. Meski serba terbatas namun Rono mampu mengasuh ratusan anak yatim dan dhuafa.

- Advertisement -