Nyatut Cebong-Kampret

113 views
Fajar mulai merekah, kalong-kelelawar pun berebut ke tempat persembuntiannya. Indah sekali.
- Advertisement -

RAKYAT Indonesia ini jika sudah mengagumi seorang tokoh, banyak yang menjadi fanatik buta. Apa perilaku sang jagoan dianggap hebat saja. Jaman Orde Lama ada pemeo “pejah gesang ndherek Bung Karno”. Pasca kejatuhan Orde Baru ada pula pemeo “Piye kabare, penak jamanku ta?”, sebagai sanjungan atas keberhasilan Pak Harto. Paling menyakitkan, ketika orang mengagumi dan mendukung Jokowi, diledek sebagai kecebong. Sebaliknya yang mendukung Prabowo disebut kampret.

Cebong itu anak katak yang baru menetas, belum disebut precil (kodok kecil). Siapa yang memulai tak jelas lagi. Tapi politisi Demokrat Roy Suryo pernah menyebut, Cebong yang tepatnya Kecebong, adalah kepanjangan Kereta Cepat Bohongan, untuk menyindir Jokowi penggagas proyek KA Jakarta Bandung-Jakarta yang tersendat.

Sedangkan Kampret adalah sebutan lain kelelawar yang hobinya makan buah mateng, ada juga yang menyebutnya codot. Maka jika ada anak kecil doyan banget sama buah-buahan, diolok-olok sebagai, “Kaya codhot !”

Tapi kini sebutan “Cebong”  dan “Kampret” menjadi liar di jagad medsos. Kaum cebong dan  kampret pun jika tahu bahasa manusia akan protes, “Salah gue apa, kok nama kami kalian catut seenaknya?”

Dai kondang Aa Gym dan Gubernur NTB Zainul Majdi (TGB) sampai mengingatkan warganet, jangan lagi menyebut nama-nama itu hanya untuk pembeda lawan dukungannya. Mereka menyerukan pakailah panggilan yang bagus, yang tidak akan menyakiti seseorang.

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud disebutkan: ”Sesungguhnya kalian dipanggil di hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka perindahlah nama-nama kalian. Nabi Muhammad memanggil Siti Aisyah istrinya dengan sebutan “khumairoh” karena mukanya selalu kemerah-merahan.

Dalam Qur’an surat Al Hujurat 11 Allah Swt juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Orang banyak yang tak menyadari akan hal ini, dianggapnya kelompok sendiri yang paling benar.

- Advertisement -