Uji Kir Kendaraan Rawan Pungli dan Calo

158 views
Praktek pungli dan calo bertahun-tahun terjadi di sejumlah Balai Pengujian Kendaraan Bremotor (PKB) atau uji kir tanpa tersentuh hukum.
- Advertisement -

PUBLIK baru berduka akibat amburadulnya tatakelola angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP) serta laut yang diduga berkontribusi atas karamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba (18/6) dengan sekitar 200 korban hilang, disusul kandasnya KM Lestari Maju di perairan Selayar, Sulsel yang menewaskan 12 orang.

KM Sinar Bangun, selain desain dan konstruksi kapal tidak sesuai dengan yang didaftarkan, kapal nahas berkapasitas 45 penumpang itu saat terkena musibah n dijejali sekitar 200 penumpang dan 60 sepeda motor, tidak dilengkapi manifest dan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari syahbandar atau otoritas pelabuhan lain.

Hanya 18 penumpang yang berhasil diselamatkan, empat tewas, sebagian besar terperangkap di bangkai kapal di dasar danau dengan kedalaman 450 meter. KM Maju Lestari juga idem, selain desain kapal tidak memenuhi syarat, kapal juga “overload”. Dua belas korban tewas.

Sementara terkait angkutan darat, tim investigasi harian Kompas (14/7) mengungkapkan sejumlah pelanggaran (berupa praktek pungli dan percaloan) di unit Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) a.l. di Bandung, Tangerang, Cibinong dan Sleman.

Di Balai Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Bandung misalnya, pemilik atau pengelola otobus (PO) harus membayar pungli Rp500.000 untuk setiap bus yang dikir, padahal tarif resminya hanya Rp55.000.

Maraknya praktek pungli dalam uji kir kendaraan diduga ikut memberikan kontribusi besar yang menempatkan tingginya angka kecelakaan lalulintas angkutan jalan raya di Indonesia.

Pada 2016 tercatat 25.859 orang tewas akibat kecelakaan lalulintas dan 22.939 orang luka-luka, sedangan pada 2017 walau angka korban turun, jumlahnya masih sangat tinggi yakni 24.213 tewas dan 16.410 luka-luka. Pada angkutan mudik Lebaran 2018 (7 – 23 Juni) 454 korban tewas.

- Advertisement -