Program P4 Agar Seniman Lebih Berdaya

77 views
- Advertisement -

DEPOK (KBK) – Budaya bukan hanya seni, tetapi meliputi banyak faktor. Budaya mencakup seluruh nilai yang menjadi pedoman untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup yang bersumber dari cipta, karsa serta berlandaskan etika dan estetika. Hal tersebut diungkapkan Pembina Yayasan Jejaring Suluk Nusantara sekaligus inisiator Dompet Dhuafa Parni Hadi saat membuka acara halal bi halal di pendopo Suluk Nusantara, Beji, Depok, Jawa Barat.

Menurut Parni agar sesuai dengan kontekstual jaman now, suatu budaya mesti dikemas dengan sejumlah sentuhan inovasi. Inovasi tersebut diaplikasikan kedalam bentuk pembacaan ayat suci Al-Quran yang diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, jawa kromo, minang, sunda dan NTT. Suluk sendiri kata Parni memiliki makna bukan sekedar pementasan budaya, melainkan sebuah jalan menuju tuhan melalui tembang penuh spiritual.

“Agama islam lahir untuk menyempurnakan budaya, diutuslah Muhammad oleh Allah ke dunia. Suluk bagian dari seni, seni bagian dari budaya. Budaya juga mencakup cara berpakaian dan toto kromo,” ujar Parni.

Parni menambahkan bila selama ini budaya mencangkup P3, pelaku, penikmat dan pelestari, kini Parni mencanangkan program P4 yakni pelaku, penikmat, pelestari dan pemberdayaan. Pemberdayaan yang dimaksud Parni meliputi social dan ekonomi. Selain itu di dalam pemberdayaan juga terdapat pembinaan karakter, pendidikan kejuruan, manajemen, modal awal dan advokasi.

“Seniman itu nguri-nguri ora nguripi (hidup-hidup tidak menghidupi), untuk itu seniman butuh pemberdayaan tanpa itu saya tidak tahu siapa yang mainkan gamelan. Maka jangan salahkan negri tetangga kalau ada yang mainkan gamelan. Dompet Dhuafa dititipkan donasi dan harus dimanfaatkan, salah satunya untuk budaya,” terang Parni.

“Jaman now harus realistis ada uang yang didapat secara halal, legal dan masuk akal karena seni itu masalah rasa, rasa itu lebih tinggi dari rasio,” tambahnya.

- Advertisement -