PENDAWA MUKSWA

297 views
- Advertisement -

Setelah melalui jalan yang berliku-liku di tepi hutan dan Kali Sentiong yang bau anyir ditutup jaring, tibalah rombongan Yamawidura ke Candi Saptaharga. Pertapaan peninggalan Bagawan Abiyasa itu mereka bersihkan, dan tinggallah mereka di sana untuk mesu budi (berprihatin). Kenikmatan duniawi benar-benar mereka tinggalkan. Bila sewaktu di Ngastina sering makan hamburger dan sate Gajahmada, kini cukup nasi wuluh  dan sayur asem. Apalagi Senjaya dan Yamawidura yang semula sangat hobi main karaoke dan instagram, kini cukup mendengarkan suara-suara jengkerik di malam buta.  Pendek kata, mungkur saliring kadonyan   (tinggalkan kebutuhan dunia­wi).

Dua tahun kemudian, Prabu Puntadewa beserta keempat adiknya membezuk para pepunden (sesepuh)-nya yang sedang bertapa tersebut. Hati mereka sangat nelangsa melihat keadaan ibu Kunti Cs yang sangat menderita itu. Tubuhnya kurus kering, rambut kusut dan mata seakan tanpa sinar. Benar-benar ngebelangsak ! Contohnya Senjaya ini. Dulu se­waktu di Ngastina, berat badannya 80 kg lebih. Tapi setelah menjadi pertapa, tinggal sekitar 45 kg netto, artinya dalam keadaan tanpa baju tanpa celana dalam begitu.

“Kok tubuhmu kurus kering begini, apa menumu tiap hari cuma belalang dan kroto?” tanya Werkudara bisik-bisik.

“Maunya sih beras Cianjur, tapi harga beras di perwayangan juga naik melulu, kok Dik. Maklum Bulog tak operasi pasar di sini…!” jawab Senjaya lesu.

Puas menyalami Kunti dan Sen­jaya, Keluarga Pendawa kemudian mencari pamannya Ya­mawidura yang bertapa secara terpisah. Untuk kedua kalinya Puntadewa beserta adik-adiknya meneteskan air mata, sewaktu melihat mantan hakim agung di Ngastina itu. Di bawah pohon duwet (jamblang) dia bertapa dengan selalu kepanasan dan kehujanan. Tokoh yang dulu vonisnya selalu bikin ngeper bupati dan politisi korup itu, kini diam tanpa daya. Tubuhnya kurus kering seperti pengidap narkotika.

- Advertisement -