PENDAWA MUKSWA

297 views
- Advertisement -

Puntadewa mencoba membangunkan pamannya itu, tapi tak gerak juga. Yakin bahwa Yamawidura sudah meninggal, Keluarga Pendawa sambil mrebes mili (nangis kecil) menyiapkan perapian untuk membakar jenazah sesepuhnya tersebut. Maunya sih hendak dibawa ke Krematorium Cilincing, tapi sayang Puntadewa bawa sangu pas-pasan!

“Hai, entar dulu dong. Jangan main bakar aja luh. Itu pamanmu bukannya mati, tapi cuma terlalu khusyuk bersemedi. Biarkan saja, nanti 9 Agustus pasti bangun…!” kata suara dari langit tiba-tiba. Dewa barangkali.

“Memangnya sedang cari wangsit  Cawapres dia?” tanya Werkudara sinis.

Dengan wajah tersipu-sipu karena malu, Keluarga Penda­wa kemudian meletakkan tubuh Yamawidura ke tempat semula. Dan mereka kembali ke Ngastina.

Sepeninggal Keluarga Pendawa, Yamawidura dan rombongannya bermaksud sesuci (mandi) di tepian Kali Gangga. Ini satu-satunya kali yang masih bersih di perwayangan, belum tercemar limbah pabrik dan menjadi bahan baku air minum PDAM Ngastina. Saat mereka mandi bersama di Kali Gangga, tiba-tiba hutan yang mengepung kali itu terbakar. Bodohnya wayang-wayang tua ini, melihat api bukannya terus ngerendem di kali, tapi mencoba lari menuju ke pertapaan. Keruan saja Kunti dan Yamawidura tewas terpanggang.  Senjaya yang mencoba menyelamatkan para sesepuhnya, tak bisa berbuat banyak.

  “Ngumpet aja deh, nanti dikira gue yang jadi otak Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) ini…” pikir Senjaya setelah api padam.

Keluarga Pendawa ketika menerima kabar bahwa Dewi Kunti  bersama Yamawidura Cs telah tewas terbakar, cuma bisa meratapi dari tempat jauh. Seusai salat gaib, keluarga Pendawa bertekad ingin mengundurkan diri dari kepemerintahan dan bisnis saham. Mereka ingin mengikuti jejak para leluhurnya, bertapa.

Maka sesuai dengan wangsit dewa di Kahyangan, Prabu Puntadewa mengundurkan diri sebagai raja. Demi kelancaran suksesi kepemimpinan di Ngastina kemudian ditunjuklah Parikesit, sebagai colon tunggal. Karena anak Abimanyu -Utari itu masih ijo dan baru duduk di kelas VI SD, pemimpin baru di Ngastina ini benar-benar dikarbit, bagaimana  bisa menjadi raja yang bijaksana dalam waktu singkat. Setelah jumenengan (pelantikan) raja baru, barulah Puntadewa bersama keempat adiknya meninggalkan negeri yang telah diperjuangkan selama ini, untuk masuk hutan, bertapa!

- Advertisement -