PENDAWA MUKSWA

296 views
- Advertisement -

“Hai Parikesit, hati-hatilah kau memerintah. Sebagai saja yang terlalu muda, pembantu-pembantumu bisa saja memperalat kau. Maka waspadalah, nanti jangan main tanda tangan saja, meskipun komisi proyek itu cukup gede..,!” pesan Harjuna yang sekaligus sebagai kakeknya, sebelum berangkat.

“Tenang saja Eyang, di Ngastina kan nggak ada KPK, karenanya dijamin tak ada OTT…” jawab Parikesit. Pokoknya siaplah!

Karena tekad mereka memang untuk hidup prihatin dan mungkur kadonyan, meskipun bis Mayasari dan busway banyak yang lewat, Keluarga Pendawa memilih jalan kaki saja. Dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja ada asu njilma (anjing jinak) mengikuti gerak langkah mereka. Berulang kali Werkudara mengusirnya, tapi si Mopi masih terus membuntuti.

Rute perjalanan Tim Safari Pendawa itu mula-mula ke utara, sesampainya di Kali Gangga kemudian membelok ke timur lewat Plumpang dan tibalah di Purwasagara. Dari sini belok lagi ke selatan melintasi Kelapagading dan tiba Daksinasagara. Dan saat perjalanan mereka menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan, tiba-tiba disetop Sanghyang Agni yang mengenakan seragam polisi. Puntadewa beserta adik-adiknya jadi ciut nyalinya, mengingat kepergian mereka tanpa membawa surat jalan.

“Anda belum tahu ya, kalau malam-malam lewat sini nggak boleh bawa senjata tajam? Karenanya, panah sarutama ini terpaksa saya sita…!” sergah Batara Agni.

Harjuna yang tak mengetahui ketentuan itu, terpaksa mengalah. Senjata andalannya, panah Gandiwa diserahkan saja daripada nanti kena sidang tilang. Yang paling menyakitkan panenggak Pendawa, senjata yang tiap malam Jumat Kliwon dikutugi (dibakarkan kemenyan), oleh Betara Agni enak saja dibuang ke Kali Sunter, gusrak!

Keluarga Pendawa berjalan terus, sehingga lama-lama tiba di Gunung Himawan sekitar pukul 05.00. Saat perjalanan tim safari itu memasuki wilayah Walukarnawa (lautan pasir), tiba-tiba Sadewa terperosok ke dalam pasir dan meninggal.

- Advertisement -