PENDAWA MUKSWA

297 views
- Advertisement -

“Biarin aja, itulah hukuman orang yang selalu merasa paling pintar, mentang-mentang lulusan universitas di Amerika,” kata Puntadewa.

Tak lama kemudian, Nakula juga terperosok dan koit. Betapapun Werkudara gusar, Puntadewa tenang-tenang saja karena itu dianggap sebagai hukuman Nakula yang merasa paling ganteng di dunia. Begitu pula saat Harjuna teler di timbunan pasir, mantan raja Ngastina itu menanggapinya sebagai hukuman karena Harjuna merasa paling sakti di dunia dan kawin melulu! Dan kini, Werkudara yang tadi panik atas kematian adik-adiknya, ikut-ikutan pula ngegelo dalam pasir dijemput maut.

“Makanya, kamu sewaktu di dunia jangan suka makan micin, bicara kasar dan sok politik. Inilah hukumannya…!” pinta Puntadewa.

Melihat keempat adiknya telah tewas, Puntadewa ingin pula mati bersama. Tapi bagaimana caranya? Bunuh diri pun di perwayangan juga dilarang keras. Maka setelah melihat ke empat adiknya itu mukswa (mati bersama raganya). Puntadewa melanjutkan perjalanannya dengan ditemani si Mopi yang belum keurus penengnya.

“Mohon pengertian ya Pi, prihatin dulu. Sebentar lagi Idul Kurban tiba, tulang kambing dan sapi pafing klutuk (banyak sekali)…” sesal Puntadewa.

Matahari sudah sepenggalah ketika perjalanan Puntade­wa bertemu Batara Endra dari Kahyangan. Dengan penuh takzim dia minta agar diperbolehkan mati dan masuk Swargaloka bersama anjingnya.

“Wah ndak bisa. Di samping najis, dikuatirkan dewa-dewa di Kahyangan bisa ketularan rabies…” jawab Batara Endra piiBti.

“Kalau begitu, mendingan saya tak masuk Swargaloka saja. Mau dititipkan di Ragunan, jangan-jangan bayar.” kata Puntadewa sangat menyesal.

Mendengar kata-kata Puntadewa yang penuh rasa kesetia-kawanan itu, tiba-tiba si Mopi berubah wujud menjadi Sanghyang Batara Darma. Mantan anjing aspal itu mengacungkun jempol karena Puntadewa telah lulus dari segala ujian.

- Advertisement -