- Advertisement -

ADALAH Tuan Guru Amajena dengan nama asli Abdurrahman, berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan dan merantau ke Bima. Dari Bima ia berlayar mencari ikan bersama murid-muridnya dan menemukan lahan datar yang masih hutan di Manggarai Timur. Di saat itulah timbul niat untuk membuka wilayah baru di sana.

“Tapi banyak pohon-pohon, Tuan Guru,” kata salah seorang murid yang ikut berlayar bersama Tuan Guru Amajena.

“Kita ronti (gunting-Red) saja,” jawab Tuan Guru Amajena.

“Dari ucapan Guru itu pulalah, akhirnya wilayah baru tersebut diberi nama, Ronting dan di sana didirikan Masjid Al Istiqamah untuk sarana ibadah,” cerita Syafruddin Abdurrahman mengisahkan asal mula Desa Ronting yang dirintis ayahnya di awal 1920-an kepada KBK, saat bertemu dengan Inisiator, Pendiri dan Pembina Dompet Dhuafa Parni Hadi di kediamannya, baru-baru ini.

Kehadiran Syafrudin, sekaligus menyampaikan terimakasih warga Ronting kepada Dompet Dhuafa karena telah berkenan merestorasi Masjid Al Istiqamah peninggalan Tuan Guru Amajena yang sudah 30 tahun lebih tidak diperbaiki karena keterbatasan dana.

Masjid ini didirikan bersamaan dengan pendirian Desa Ronting, dan dibangun kembali  Mei 1941 dengan bahan kayu dan kemudian dibangun secara permanen 1983. Sejak Mei 1985 baru bisa dipakai untuk shalat.  Sejak tahun 1943-1983, masjid ini belum diberi nama hanya dipanggil Masjid Ronting saja.

Setelah dipermanenkan barulah Tuan Guru Amajena memberi nama masjid ini dengan Masjid Al Istiqamah. Sejak dipermanenkan hingga tahun 2017 masjid ini belum mendapat sentuhan pembaharuan. Barulah tahun 2017 Dompet Dhuafa datang dan merestorasi masjid bersejarah ini.

“Kondisi masjid sudah memprihatinkan, 30 tahun kami berusaha memperbaiki namun keterbatasan dana membuat kami tidak berdaya,” jelas H. Syafruddin Abu, Panitia Pembangunan Masjid yang juga sepupu Syafruddin Abdurahman yang juga ikut hadir di Jakarta.

- Advertisement -