Ganti Baju Apa Ganti Istri?

199 views
Ngersa Dalem Sultan HB X, meski mampu dan tradisi Kraton mengizinkan, beliau setia dengan istri satu GKR Hemas.
- Advertisement -

SEKARANG sedang ramai soal hastag #2019Ganti Presiden, sampai sang pendeklarasinya diudak-udak massa. Kita takkan membahas wilayah yang sekarang sedang sensitif itu. Bagi rakyat kecil, persetan dengan 2019 ganti presiden. Yang penting, 2019 atau kapan saja, kita bisa makan dengan menu berganti-ganti. Baju juga begitu, tidak gantung kepuh (itu-itu saja). Apa lagi bagi kaum ibu, ganti baju, tas dan sepatu adalah merupakan kebutuhan primer. Tapi awas, kaum lelaki jangan coba-coba ganti istri!

Manusia adalah makhluk pembosan, tidak nyaman dengan sesuatu yang monoton dan itu-itu saja. Maunya selalu berganti-ganti, biar ada fariasi. Karenanya dalam perspektif Islam, Allah mengizinkan lelaki beriistri sampai empat. Dalam surat Annisa ayat 3 disebutkan, “Kawinilah perempuan satu sampai empat, jika mampu. Jika tidak, cukup satu saja.”

Ingat, di situ ada narasi alternatif “kalau mampu”. Jika tidak mampu memaksakan juga beristri empat, seorang suami bisa terjebak pada istikomah, yang dalam arti istri tiga kok kontrak rumah! Makanya orang Jawa punya nasehat, bagi kalangan yang mau poligami antara bonggol dan benggol harus berbanding lurus, sama-sama kuat.

Banyak istri disebut poligami, kalau ganti-ganti istri punya potensi ke poliklinik. Soalnya, istri yang diceraikan bisa ngamuk. Padahal makhluk wanita bila emosi bisa juga sadis lho, tahu-tahu pletakkkk…..pentungan mendarat ke jidat. Nah, bagaimana nggak masuk poliklinik jadinya?

Kaum wanita menolak suami ganti-ganti istri. Tapi dia sendiri adalah makhluk yang suka ganti-ganti baju, meski koleksi di rumah sudah satu almari. Setiap mau kondangan, tiba-tiba merasa sudah tak punya baju, dan harus ganti dengan yang baru. Kadang kaum wanita memang seperti penyiar TV, pantang dengan baju yang sama dalam penampilannya.

- Advertisement -