F-16 Viper, SU-35, Rafale atau Gripen ?

1.603 views
- Advertisement -

TIGA pesawat tempur multi peran Rafale buatan industri dirgantara Dassault Perancis menunjukkan kebolehannya bermanuver dalam atraksi dinamis, meliuk-liuk di angkasa di atas ibukota, 27 Agustus lalu.

Selain Rafale, AU Perancis yang tergabung dalam misi Pegasus itu memperkenalkan pesawat angkut militer berat Airbus A400M Atlas, 135FR dan A310 dalam lawatannya ke Jakarta dan menyampaikan sumbangan pada korban gempa di Lombok setelah sebelumnya mengikuti latihan perang udara Pitch Black dengan AU Australia 27 Juli sampai 17 Agustus.

Rafale yang dikategorikan pesawat tempur serbaguna generasi ke-4,5, bermesin ganda dan sayap delta, bisa berpangkalan di darat dan di kapal induk, berkecepatan maksimum 1.912 km per jam (1,8 Mach),jarak jelajah 3.700 km dan dibandrol sekitar 142,3 juta Euro (sekitar Rp2,4 triliun) atau termahal dibandingkan saingannya F-16 Viper, Sukhoi SU-35 atau JAS 39 Gripen.

TNI-AU memang dihadapkan pada sejumlah pilihan untuk melengkapi alutsista terutama kebutuhan pesawat tempur. Selain Rafale, sebut saja F-16 Viper buatan General Dynamics Amerika Serikat, Sukhoi SU-35 buatan Uni Soviet atau JAS 39 Gripen buatan SAAB Swedia.

Sejak orde baru, TNI-AU diperkuat pesawat-pesawat tempur ex- Barat terutama AS untuk menggantikan skadron ex-Uni Soviet seperti heli MI-4 dan Mi-6, jet interseptor MiG-17,MiG-19, MiG-21 dan pengebom TU-16 yang mengalami kelangkaan sukucadang akibat renggangnya hubungan RI dengan Soviet pasca tragedi G30S PKI,1965.

Sebut saja, pesawat tempur Sabre F-86 buatan AS warisan Perang Dunia II yang dihibahkan Australia, F-5 Tiger, A4 Skyhawk lungsuran Israel dan generasi pesawat tempur yang lebih canggih F-16 Fighting Falcon seri A sampai D (seluruhnya buatan AS). TNI-AU juga mengoperasikan pesawat latih lanjutan Hawk Mk 53, HS-100 dan HS-200 buatan Inggeris.

- Advertisement -