F-16 Viper, SU-35, Rafale atau Gripen ?

1.988 views
- Advertisement -

TNI-AU baru saja meneken kontrak pembelian senilai l,14 milyar dolar AS (sekitar Rp16,9 triliun) untuk 11 pesawat tempur generasi ke 5 Sukhoi SU-35 (dijuluki Barat Flanker E) yang akan tiba secara bertahap mulai 2019.

Pesawat tempur baru yang terbang perdana pada pada 2009 dan Indonesia menjadi negara pengguna pertama selain Rusia, mampu melaju pada kecepatan 2.778 Km (2,2 Mach) jarak jelajah 4.500 Km dan memiliki rak-rak di badan serta sayapnya untuk menggembol bom atau rudal seberat delapan ton. Rusia kabarnya juga menawarkan SU-35 ke India,Malaysia, Brazil dan Venezuela.

Senjata andalan pesawat yang dibandrol pada kisaran 45 juta dolar AS per unit (sekitar Rp668 milyar) yakni rudal KH atau dikenal sebagai “carrier killer” alias penebar maut yang berhulu ledak pasif, tidak melakukan pemindaian terhadap ruang melainkan mendeteksi obyek yang diserang sehingga mampu menghindari sistem pertahanan udara lawan.

Seabrek pertimbangan perlu dilakukan untuk menentukan pilihan, mulai dari spesifikasi pesawat sesuai geografi, potensi lawan, jenis operasi, kesinambungan teknologi, kemampuan anggaran, sistem pembayaran (seperti imbal beli), alih teknologi dan juga pengadaan suku cadang.

Saingan terdekat Rafale adalah F-16 Viper atau seri F-16 Fighting Falcon yang dimutakhirkan, khususnya upgrade pada elemen kunci yakni radar Active Electronically-Scanned Array (AESA) yang canggih, mengarahkan sinar secara elektronik dan mengalihkannya dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa ada bagian yang bergerak.

Dengan menyebar sinyal melalui banyak frekuensi radio, radar AESA sulit dideteksi dan dijamming lawan dan memungkinkan pesawat tetap bisa ngumpet dari deteksi lawan. Radar AESA serupa ditemukan pada pesawat tempur generasi kelima, seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II serta jet tempur generasi ke-4+ lain seperti Rafale dan Gripen.

- Advertisement -