F-16 Viper, SU-35, Rafale atau Gripen ?

1.890 views
- Advertisement -

TNI-AU sejauh ini mengoperasikan skadron pesawat F-16 Fighting Falcon seri A sampai D, dan yang terakhir seri D yang dimutakhirkan menjadi Blok 52ID.

Industri pesawat udara Swedia, SAAB menawarkan pesawat multi guna JAS 39 Gripen yang konon mampu melakukan sekaligus fungsi pertempuran udara (dog fight), serangan darat dan pengintaian sehingga dijuluki “Wing of Your Nation”. Dengan konektivitas radar yang canggih, pesawat ini cocok untuk patroli darat, laut dan udara.

Gripen yang dibandol dengan kisaran harga antara 45 sampai 50 juta dolar AS (mulai Rp668 milyar) kompatibel dengan berbagai sistem senjata seperti rudal AIM-9/IRIS-T, AIM-120/MICA buatan AS, Skyflash/Meteor, Rb.75, KEPD.350, Paveway, Rbs-15 rudal anti kapal dan bom kluster Mk.82.Selain Swedia, Gripen juga odioperaskan oleh AU Ceko, Hongaria dan Thailand.

Jika yang dipilih pesawat tempur yang sudah teruji (combat proven), tentu pilihan akan jatuh ke F-16 yang terbukti andal di palagan Timur Tengah (Perang Arab – Israel) dan digunakan oleh banyak negara atau SU-35 yang digunakan dalam operasi terbatas di atas wilayah Suriah sejak 2016.

Terkait pesawat angkut, TNI-AU sejauh ini mengoperasikan belasan Hercules C-130 buatan Lockheed Martin, AS dari berbagai seri (A sampai H dan patroli maritim/MP) mulai menjelang awal dekade ’60-an, juga beberapa Fokker F-27 troopship versi angkut militer.

Selain masih belum stabil karena produk baru atau dianggap masih dalam kondisi “baby sickness period” , harga A400M dalam kisaran 110 hingga 120 juta dolar AS (mulai Rp1,48 triliun) sangat mahal atau sekitar dua kali lipat dari Hercules, bahkan tiga kali buatan dalam negeri, CN295.

Pesawat Hercules C-130 memiliki sejarah panjang di negeri ini, terlibat dalam berbagai operasi militer dan kemanusiaan (bencana) dan juga mengalami musibah seperti hilang dalam operasi Dwikora di perairan Kalimantan Utara pada Sept. 1964 dan empat lainnya rusak total mengalami musibah di lereng G. Sibayak, Sumut (’85), di Condet, Jakarta (’91), Medan (2015).

- Advertisement -