Vostok 2018, Nostalgia Perang Dingin

75 views
- Advertisement -

“Sikap saling percaya antara kami terjalin di bidang politik, keamanan dan pertahanan, “ kata Putin dalam sambutannya di forum ekonomi kedua negara yang “berbalas pantun” oleh sambutan Xi yang menyebutkan, persahabatan kedua negara semakin erat.

Tidak Seperkasa Era Soviet
Militer Rusia memang tidak lagi seperkasa seperti di era Uni Soviet dulu, karena selain sempal
menjadi 15 negara merdeka, kekuatan blok tersebut yang semula tergabung dalam Pakta Warsawa juga dipreteli anggotanya yang malah bergabung ke Aliansi Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS.

Negara ex-Uni Soviet yang bergabung ke NATO yakni Latvia, Estonia dan Lithuania, sedangkan negara-negara satelitnya yang dulu berada di Pakta Warsawa yakni Albania, Bulgaria, Ceko, Hongaria, Polandia, Rumania, Slowakia, juga Slovenia dan Kroasia (ex-Yugoslavia).

Sementara China, negara yang dulunya sangat tergantung pasokan peralatan militer Soviet, kini tampil sebgai raksasa militer dunia, memiliki kapal induk dan mampu membuat sendiri pesawat tempur termasuk yang berkategori siluman (J-20 Chengdu) dan kapal selam nuklir.

China saat ini juga menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia, mengekspansi investasinya ke berbagai negara termasuk ASEAN dan negara-negara di Afrika.

Vostok 2018 kemungkinan akan direspons AS atau NATO dengan melakukan latihan serupa, walau tidak bisa dimaknai, kedua belah kubu sedang beranjak menuju teater perang sesungguhnya.

Senjata pemusnah massal yang dimiliki kubu Barat pimpina AS maupun lawannya, Uni Soviet dan China saat ini sudah melebihi yang dibutuhkan untuk saling menihilkan lawan, sehingga perang merupakan pilihan paling akhir bagi kedua belah pihak.

Jadi, Vostok 2018 yang digelar di tengah era now agaknya hanya ritual sentimental nostalgia Perang Dingin.

- Advertisement -