Rokok Hambat Target Pembangunan

348 views
Lebih separuh remaja pria di Indonesia berusia 15 - 25 tahun perokok. Rokok tidak saja merusak kesehatan, tetapi juga berdampak bagi capaian Tujuan Pembangunan Berkesinambungan (SDGs 2030) foto: harislukmnulhakim)
- Advertisement -

KEBIJAKAN pengendalian tembakau sangat diperlukan, mengingat selain merusak kesehatan, meluasnya penghisap rokok terutama di kalangan remaja berdampak negatif bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

Hal itu terungkap dalam Asia Pasific Conference on Tobacco or Health (Apact) ke-12 yang digelar Nusa Dua, Bali, Kamis (13/9) yang dihadiri a.l. oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brojonegoro dan Kepala Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Paranietharan.

“Tujuan pembangunan berkelanjutan mustahil diraih tanpa adanya kebijakan pengendalian tembakau yang kuat, “ kata Bambang dalam pidato pembukaan pertemuan itu seraya menambahkan, prevalensi merokok yang tinggi meningkatkan kasus-kasus penyakit tidak menular yang menelan biaya besar dan menyebabkan kualitas manusia Indonesia rendah.

SDGs adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi.

Menurut Bambang, pemerintah Indonesia berkomitmen mencapai SDG sehingga kebijakan pengendalian tembakau yang merupakan bagian tujuan 3 SDGs yakni kehidupan yang sehat dan sejahtera yang baik untuk semua.

“Tanpa kebijakan pengendalian tembakau yang kuat, mustahil bisa mencapai tujuan 3SDG, “ ujarnya.
Tujuan 3 SDGs menargetkan penurunan sepertiga kematian dini akibat penyakit tidak menular pada 2030 dimana konsumsi rokok menjadi faktor risiko utama kematian dini dan disabilitas nomor dua pada kaum laki dan nomor delapan pada perempuan.

Pada 2015 saja, angka kematian dan disabilitas akibat penyakit tidak menular terus melonjak dan menyerap biaya hampir 24 persen dari pengeluaran kesehatan. Tujuan 3 SDG juga menyasar implementasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian tembakau (FCTC) yang kuat, namun sayangnya, Indonesia saat ini satu-satunya negara Asia yang belum mengaksesi FCTC.

- Advertisement -