Tragedi Yaman: 11,9 Juta Orang Kelaparan

114 views
11,9 juta penduduk Yaman terancam mati kelaparan, 5,2 juta anak-anak akibat perang sejak 2015 antara Houthi dukungan Iran dan rezim Mansour Hadi dukungan Arab Saudi dan UEA. Korban tewas 10.000 orang.
- Advertisement -

CAMPUR tangan internasional untuk segera mencarikan solusi perang sipil berlarut-larut yang berkecamuk di Yaman dan mengakibatkan jutaan penduduk terutama anak-anak terancam kematian akibat kurang gizi dan kelaparan sangat diperlukan.

Nada putus asa bahkan diteriakkan oleh Badan Pangan PBB (WHO) yang menyebutkan, sudah tidak ada waktu lagi bagi lembaga-lembaga kemanusiaan internasional untuk menyelamatkan warga Yaman dari bencana kelaparan.

Menurut laporan teranyar WHO, sebanyak 8,4 juta dari 29 juta penduduk Yaman mengalami kelaparan, bahkan jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah 3,5 juta orang lagi menyusul anjloknya mata uang negara itu sehingga melambungkan harga sembako dan BBM.

Lembaga sosial dan kemanusiaan yang bermarkas di London, Save the Childern – SC (19/9) bahkan mengingatkan, seluruhnya satu generasi bangsa Yaman sedang diambang kemusnahan akibat bencana kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berdasarkan hasil indentifikasi SC, dari catatan sebelumnya, ada 4,2 juta anak-anak di Yaman mengalami kelaparan, sehingga ditambah korban baru sekitar satu juta anak-anak lagi akibat kenaikan harga sembako dan BBM, total 5,2 juta anak-anak menderita kelaparan.

Konflik berdarah di Yaman antara milisi Houthi dan loyalis rezim petahana pimpinan Presiden Abdurrabuhh Mansour Hadi telah berkecamuk sejak 2015 dan makin parah akibat intervensi koalisi Arab Saudi dan UEA yang berada di belakang Hadi dan milisi Hisbullah Iran yang mendukung Houthi.

Sejumlah upaya damai dilakukan PBB sejak 2015 semua berujung kegagalan, termasuk perundingan resmi yang digelar antara pimpinan Houthi dan rezim Mansour Hadi di Kuwait pada 2016 dan yang terakhir perundingan di Jenewa awal September lalu.

Tercatat 10,000 korban tewas selama konflik Yaman, sebagin besar warga sipil termasuk anak-anak, sementara bantuan internasional sulit masuk karena akses melalui pelabuhan satu-satunya, Hodeida menghadap Laut Merah yang dikuasai Houthi tertutup akibat blokade Saudi dan UEA.

- Advertisement -