Sejumput Kisah Relawan dari Palu

68 views
Relawan Asep Beni (kanan) bersama seorang bapak yang mencari keluarga di Donggala bertolak ke Makassar dengan harapan dapat ditemukan di antara pengungsi di sana. Foto: Ist
- Advertisement -

Siang ini, saya minta izin kepada tim untuk meninggalkan Palu menuju Makassar dengan menggunakan Bis Damri dari terminal Tipo Palu.

Dalam perjalanan darat antar kota antar propinsi yang katanya akan butuh waktu tempuh 22 jam ini, saya ditemani seorang bapak, yang turut naik bis di daerah Donggala.

Seperti biasa, saya coba membuka sapa pada teman seperjalanan dengan basa basi dari mana hendak kemana.

Pak Rahman, usia sekitar 40-an, seorang Bapak yang sedang berikhtiar mencari isteri dan kedua anaknya yang belum diketemukan sejak kejadian gempa tsunami Palu-Donggala akhir September lalu. Dia sudah berkeliling Donggala, bertanya kepada para tetangga dan sanak saudara yang masih ada, juga warga-warga di banyak titik pengungsian di Donggala, barangkali mereka pernah bertemu atau melihat keberadaan keluarganya, namun usaha pencairannya belum jua membuahkan hasil.

Hari ini dia hendak ke Makassar, mencoba menelusuri keberadaan sang buah hati dan ibu dari kedua anaknya. Barangkali mereka ikut rombongan yang mengungsi dan terdampar di Makassar, mengingat beberapa saat setelah kejadian banyak warga Palu dan Donggala bermigrasi ke Makassar untuk mengungsi.

Di tengah obrolan-obrolan santai, dia turut menyanyikan lagu Imam s arifin, lagu dangdut yang didendangkan dari bilik kemudi, ‘jangan tinggalkan aku…. ku tak sanggup hidup tanpa dirimu…, tak
lama menyanyi, pak Rahman mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Suara tangis kecil terdengar dari balik handuk merah yang menutupi wajahnya. Ia teringat keluarganya yang kini sedang dicari.

Beberapa saat kemudian, saya pegang tangan kanannya, untuk coba menghibur dan mengajak bersabar atas ujian yang sedang dialami, seraya berdoa semoga keluarganya segera diketemukan.

Sesekali kami nyanyi bersama kembali mengikuti alunan musik dangdut 90-an yang menemani sepanjang perjalanan Palu Makassar.

- Advertisement -