Simbah Sayang Cucu

65 views
Presiden Jokowi jajan bersama keluarga di warung makan kota Solo, sambil momong Jan Ethes cucu pertamanya.
- Advertisement -
ORANG segalak Amien Rais dan Ratna Sarumpaet menghadapi penguasa/pemerintah, tapi ketika berinteraksi dengan sang cucu mereka, nampak lembut sekali. Begitu juga SBY mantan presiden kita, atau Pak Harto presiden kedua RI; Jokowi presiden sekarang; juga sangat dekat dengan cucu-cucunya. Bung Karno sama sekali tak ada fotonya bersama cucu, karena sampai beliau menjalani tahanan rumah dan wafat, tak pernah ada foto-foto publikasi tentang Sukarno dengan anak Guntur, Megawati maupun Rachmawati.
Memiliki cucu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang kakek-nenek atau simbah dalam bahasa Jawa. Sebab dengan adanya cucu, akan hadir generasi penerus. Maka sungguh malang bagi  mereka yang tak punya keturunan, tak ada lagi penerus dinasti. Dia tak bisa membayangkan bahagianya punya cucu, bagaimana indahnya tangisan cucu ketika menangis minta dibelikan jajan.
Ada keluarga yang cepat punya cucu, dalam usia dibawah 50 tahun sudah menimang anak daripada anak. Tapi ada pula yang sampai usia kepala 6 mantu saja belum, karena putra-putrinya belum laku dalam bursa perjodohan. Maka sungguh nelangsa para manula yang sampai tua belum bercucu, menjadi kikuk ketika ditanyakan: berapa cucu Anda?
Namun ada juga kakekp-nenek ceria belum bercucu tapi pede saja menghadapi pertanyaan semacam itu. Jika ada pertanyaan demikian, justru dia balik bertanya, “Cucu Anda sendiri berapa?” Ketika sipenanya menjawab lima, dia langsung memotong, “Terpaut lima sama saya dong.” Sipenanya ganti kaget, “Jadi cucumu sepuluh?” Sambil tertawa dia menjawab, “Belum punya!” Para kakek-nenek pun tertawa renyah.
Pada umumnya, kakek nenek jadi lebih sayang pada cucu-cucunya ketimbang pada anak sendiri. Alasannya macam-macam. Bisa ketika muda tak sempat dekat dengan anak-anak karena kesibukan kerja. Bisa pula karena sicucu karakter dan penampilannya mirip dirinya. Bisa juga semakin tua orang menjadi lebih lembut, tak sekasar sebagaimana waktu muda.
Tapi seorang mantan Menteri Agama, Maftuh Basyuni almarhum pernah berpesan, “Kalau kamu punya anak kecil, jangan dititipkan simbah, bisa rusak itu anak!” Apa alasannya? Sebab sudah bukan rahasia lagi, saking sayangnya pada cucu, apa perilaku sicucu dianggapnya lucu saja, jadi enggan menegur. Bahkan jika orangtuanya melarang, si kakek-nenek mengizinkan. “Timbang nangis.” Begitu alasannya.
Maka pernah ada kejadian, ada seorang ibu yang tak nyaman istilah pipis bagi anak-anak balitanya. Dalam lingkungan keluarga dia mewajibkan si anak bilang “nyanyi” bila mau minta pipis. Nah, suatu ketika si balita nginep di rumah nenek dan tidur bareng siembah. Tengah malam sibocah bangun, minta “nyanyi”. Si  nenek melarang, tak boleh tengah malam kok menyanyi, bisa mengganggu tetangga tidur. Si balita pun menangis, sehingga si nenek memberi dispensasi. “Ya sudah, nyanyi di kuping nenek saja, tapi pelan saja ya.” Langsung saja si balita turrr……..kencing di kuping nenek.
Kakek-nenek memang tak boleh terlalu permisif pada keinginan cucu. Sebab cara demikian tak baik bagi masa depan anak itu sendiri. Anak akan beranggapan bahwa segala keinginannya akan terkabulkan, semua menjadi monopolinya. Padahal dalam hidup bermasyarakat tidak seperti itu. Ada hukum, adat, etika yang mengaturnya. Manusia tak bisa meementingkan dirinya sendiri,  harus lelalu bergotongroyong satu sama lain, saling membutuhkan.
Banyak kejadian, cucu yang dimanjakan sejak kecil, justru menjadi monster bagi hari tua si kakek nenek. Beberapa kali terjadi, kakek-nenek jadi korban pembunuhan karena yang mengotaki cucu sendiri. Si cucu minta warisan, si kakek-nenek tak memberi, mata gelaplah sicucu durhaka.
Tapi juga tak semua kakek-nenek memanjakan cucunya. Banyak juga kakek nenek nyinyir, karena segala sepak terjang cucu di masa bocah selalu dikritisi si kakek. Baru main di bawah pohon kelapa, si nenek sudah teriak, “Jangan main di situ, nanti kejatuhan kelapa.” Melihat cucu berpanas-panas segera dilarang dengan bentakan, “Jangan panasan, nanti cacinge munggut (bangkit).” Begitulah si kakek nenek jika terlalu sayang cucu, nyinyirnya bisa melebihi Ratna Sarumpaet. (Cantrik Metaram)
         
- Advertisement -