Nasib Penenun Songket Flores, Tak Seindah Hasil Karyanya

64 views
- Advertisement -

Sudah menjadi garapan turun temurun bagi En’de-En’de (ibu-ibu-Red) di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, menenun kain songket dengan corak yang khas. Tangan para En’de ini sangat cekatan menyulamkan benang, memainkan alat tenun manual secara tradisi ini.

Hasil tenunannya sangat indah dengan didominasi warna merah dirias benang biru. Ada juga dominasi warna hitam dengan rias benang emas dan berbagai motif lainnya. Motif berwarna seperti merah dan lain-lain, merupakan varian baru yang datang belakangan ini, aslinya sejak dulu tenunan songket Flores ini berkain dasar hitam.

Untuk satu lembar kain tenun songket 1,2 atau 1,5 meter x 4 meter, para En’de mampu mengerjakan selama 7 hari.

Menurut Grace, Relawan Dompet Dhuafa di Ronting, En’de di sana menerima upah tenun dari pengepul. Satu kain hasil tenunan dihargai Rp400 ribu dipotong biaya benang Rp70 ribu. Jadi bersih sekitar Rp330.000, jika dibagi dengan 7 hari kerja, penghasilan En’de-En’de di Flores ini hanya Rp47 ribuan per harinya.

Untuk tenun, menurut Grace, memang tidak semua orang Flores bisa menenun. Hanya suku tertentu saja yang bisa menenun, karena itu warisan turun temurun. Bahkan, motif dan style-nya pun masih-masing suku penenun ini punya ciri khas. Karena tidak boleh diajarkan ke pihak lain di luar suku itu, maka tenunan ini menjadi original dan hanya ada di Flores saja.

Sambil menjaga anak di rumah, sementara suami berkerja menjadi petani, para En’de memanfaatkan waktu luangnya dengan bertenun. Bahkan kadang kala, hasil tenunan ini menjadi pendapatan pokok keluarga, tatkala hasil jerih payah suami yang menjadi buruh Rp50.000 per hari tidak sesuai harapan, karena sepi panggilan kerja.

“Pendapatannya tidak seindah hasil karyanya,” ungkap Parni Hadi, Inisiator, Pendiri dan Ketua Pembina Dompet Dhuafa mengomentari kerja keras para En’de di Flores ini.

Karena itu pula Parni Hadi turut mendukung upaya tim Dompet Dhuafa yang berencana memasukan tenun ini menjadi salah satu program pemberdayaan kaum perempuan Flores, khususnya di Ronting.

Di Ronting ini sebelumnya Dompet Dhuafa sudah merestorasi Masjid Al Istiqamah, yang puluhan tahun belum diperbaiki. Kini masjid itu menjadi masjid yang paling indah di pinggir pantai. Masjid Al Istiqamah ini, dijadikan sebagai pusat aktvitas ibadah, budaya, ekonomi, pendidikan ummat Islam di Ronting, termasuk pemberdayaan perempuan dan nelayan.

Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ismail A. Said membenarkan apa yang disampaikan Ketua Pembina Dompet Dhuafa. “Kita akan mencoba membantu masyarakat Ronting untuk meningkatkan kehidupannya dengan melakukan pengembangan perikanan, peternakan, pertanian dan kerajinan melalui Program Dompet Dhuafa. Khusus kerajinan kita akan fokus membina Pengrajin Tenun Kain Tradisional ini terkait budaya lokal yang harus dilestarikan,” pungkas Ismail.

Foto: Grace/ Ronting

- Advertisement -