BOLA SIGALA-GALA

138 views
Prabu Destarata ingin segera menyerahkan negri Ngastina ke Pendawa, karena sebel lihat kelakuan Jakapitana.
- Advertisement -

SEMENJAK Prabu Pandu meninggal di atas perut Dewi Madrim sebagai karma, kendali negeri Ngastina dipegang oleh Destarata kakak almarhum Pandu. Sayangnya, tokoh satu ini punya penyakit berhalangan tetap, buta tak mampu melihat apa-apa. Cuma soal duit jangan ditanya, Destarata mampu membedakan mana yang  ratusan merah dan mana pula yang lima puluh ribuan biru.

Sadar akan kelemahannya, Prabu Destarata dalam memerintah banyak bergantung pada Patih Sengkuni. Sebelum tanda tangan perizinan proyek, dia musti bertanya dulu pada Sengkuni, apa isi dan maksudnya. Di sinilah Sengkuni lalu bermain. Meskipun bertentangan dengan Garis Besar Haluan Raja, dia bilang aman-aman saja. Nah, izin pun keluar dan Sengkuni memperoleh imbalan 10 % dari nilai proyek. Maka jangan heran, baru setahun jadi patih dia sudah mampu bikin gedung pusat perdagangan Jenar Plaza.

“Kangmas Prabu, ananda Jakapitana bermaksud membangun gedung “Bola Sigala-gala” dengan anggaran Rp 1,3 trilyun, kira-kira setuju nggak?” tanya Patih Sengkuni sekali waktu.

“Jika gedung itu bernilai tambah untuk meningkatkan persepakbolaan nasional, apa salahnya. Kasih saja, gitu saja kok repot….,” kata Prabu Destarata.

Jakapitana adalah putra sulung Prabu Destarata. Sebagai “calon” pewaris tahta, diperkirakan sumber keuangannya tak terhingga.  Maka meskipun profesi sehari-harinya tak jelas, oleh masyarakat pecinta bola di Ngastina, dia didaulat jadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Ngastina (PSBN). Ini sungguh jabatan bergengsi, karena dari lembaga ini pula nama Jakapitana bakal dikenal di dunia internasional, khususnya Federasi Sepakbola Seluruh Dunia (FSSD).

Yang lebih menguntungkan, dengan posisi sebagai Ketum PSBN tersebut Jakapitana mengelola anggaran dari APBN dan APBD. Dana itu mustinya untuk memajukan persepakbolaan di Ngastina, tapi sebagian besar malah masuk kantong Jakapitana sendiri, dan pengurus daerah (pengda). Uniknya saat mau diaudit oleh KPK, tidak bersedia. Bahkan Patih Sengkuni yang berusaha mengkritisi kepengurusan PSBN, diangkat jadi Sekretaris Umum. Nah, lantaran kecipratan rejeki pula, pada akhirnya Patih Sengkuni selalu mem-back up langkah sang kemenakan, meskipun salah.

- Advertisement -