Uang Bau Rp 600.000,-?

129 views
Truk sampah DKI berbanjar-banjar di TPST Bantargebang, Bekasi.
- Advertisement -

ANDAIKAN bisa memilih, maukah Anda tiap hari terima uang Rp 7.000,- tapi dari pagi siang sore sampai malam, selalu mencium anyirnya bau sampah? Jangankan Rp 7.000,- sampai Rp 50.000,- pun pasti ogah. Tapi itulah nasib warga sekitar TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantargebang, Bekasi. Karena tak ada pilihan lain, mereka hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Tiap hari harus berakrab-akrab dengan bau anyir sampah. Tapi sampai kapan?

Sampai……., TPST Bantargebang ditutup, tentunya. Penutupan itu sepertinya akan mendekati kenyataan, apabila “konflik” persampahan atara Pemkot Bekasi-Pemprov DKI tak menemukan titik temu. Gubernur Anies Baswedan bersikukuh hanya bayar dana hibah sampah Rp 194 miliar, sementara Walikota Bekasi minta dana kemitraan Rp 2 triliun pertahun. Karena Walikota Bekasi yang punya kuasa, bisa saja langsung TPST ditutup tup…., dan Pemprov DKI kelabakan cari TPST ke mana lagi?

Penduduk Ibukota setiap harinya memproduksi sampah sampai 7.000 ton. Itu di luar produk warga Jakarta pinggiran yang mengurus sampahnya lewat TPSSB (Tempat Pengolanan Sampah Sistem Bakar). Memang menjadi ironis, sampahnya orang Jakarta tapi membuangnya bukan di wilayah Jakarta juga, melainkan ke Bekasi. Enak Jakarta, tapi enek Bekasi dong! Warga sekitar TPA Bantar Gebang setiap hari muneg-muneg (mau muntah) karena cium sampah “impor”.

Memang harus diakui, ada dana kompensasi buat warga sekitar TPST Bantargebang. Karena setiap hari harus mencium bau sampah busuk, Pemkot Bekasi memberikan “Uang Bau” per-KK Rp 600.000,- untuk jangka waktu 3 bulan. Kok kecil banget ya? Bagaimana tidak dibilang kecil; jika Rp 600.000,- untuk 3 bulan, bararti sebulan Rp 200.000,- atau Rp hampir Rp 7.000,- perhari.

Sudah jumlahnya terlalu kecil, juga sangat tidak adil. Memangnya yang punya hidung itu hanya Kepala Keluarga, sehingga yang dapat hanya yang jadi  Kepala Keluarga saja? Maka sekali lagi harus ditegaskan, “Uang Bau” itu sama sekali tidak adil dan terlalu kecil.

- Advertisement -