Sampah Pemuda

50 views
Sebentar-sebentar mahasiwa turun ke jalan, minta presiden mundur.
- Advertisement -

HARI ini bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-90. Pada 90 tahun lalu di Jalan Kramat Raya, para pemuda yang datang dari berbagai pelosok negeri menyatakan: bertumpah darah, berbangsa, berbahasa; hanya satu, Indonesia. Itulah tonggak sejarah para anak muda mencintai ibu pertiwi, untuk bebas dari penjajah Belanda. Bagaimana kondisi sekarang? Justru setelah 73 tahun jadi bangsa merdeka dan berdaulat penuh, ada sekelompok pemuda yang berusaha mencerai-beraikan NKRI. Mereka sudah lupa pada Sumpah Pemuda 90 tahun lalu, mereka itulah sampah pemuda!

Perhatikan teks aslinya Soempah Pemoeda 90 tahun lalu itu, sesuai dengan ejaan van Ophuysen. Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Kita sudah lama mendengar ungkapan lama: pemuda harapan bangsa. Karena itulah di kala muda Bung Karno menyulut semangat bangsanya dengan mengatakan, “Berikan 1.000 orangtua, akan aku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, akan aku goncangkan dunia.” Itu bukan omongan pepesan kosong, Bung Karno telah berhasil membuktikan kata-katanya.

Tentu saja bersama teman-temannya lebih dari 10 pemuda, Bung Karno berhasil menggoncang dunia. Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia, pada sidang PBB tahun Januari 1949 mengatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Tapi kala itu ada pemuda Indonesia Sumitro Djojohadikusuma, Sudjatmoko, Haji Agus Salim berhasil membantahnya. Goncanglah dunia, dan gagalah klaim Belanda karena dipaksa PBB harus meninggalkan Indonesia.

Pemuda-pemuda Indonesia berprestasi terus bermunculan bergiliran mengisi dan membangun Indonesia yang telah merdeka. Tapi jangan lupa bahwa Indonesia bukanlah negeri Sangkuriang atau Bandung Bondowoso yang bisa diwujudkan dalam semalam. Itu artinya bahwa membangun negri itu perlu proses dan tahapan, tidak bisa ujug-ujug jadi seperti sulapan.

- Advertisement -