Saudi Telan Risiko Kematian Khashoggi

3.134 views
Pengunjukrasa mengenakan masker Pangeran Mohammed bin Salman memprotes kasus pembantaian wartawan Arab Saudi Jamal khashoggi 2 Okt. lalu (foto: Al Jazeera)
- Advertisement -

“SIAPA menabur angin, bakal menuai badai” . Pemerintah Arab Saudi agaknya harus menelan risiko terkena sanksi sejumlah negara dan kecaman internasional akibat keterlibatan aparatnya dalam kasus pembantaian wartawan senior dan kritikus, Jamal Khashoggi.

Semula rezim Riyadh menampik tudingan telah menghabisi Khashoggi yang masih warganegara Saudi tersebut namun menyingkir dan bermukim di AS karena pertentangannya dengan kalangan istana.

Konsulat Saudi di Istanbul bersikeras, korban yang hendak mengurus surat nikah dengan pacarnya, wanita Turki bernama Hatice Chengiz pada 2 Okober lalu sudah meninggalkan kantor tersebut sebelum “menghilang” berhari-hari, tidak tentu rimbanya .

Berdasarkan laporan Hatice yang menunggu di luar kantor, juga bukti digital dari jam tangan Apple yang dikenakan korban serta sejumlah bukti pendukung lain yang dimiliki pemerintah AS dan Turki, kemungkinan ia dimutilasi oleh belasan algojo yang sengaja didatangkan dari Saudi.

Dalih bahwa Khashoggi tewas akibat perkelahian di dalam gedung konsulat juga terbantahkan berdasarkan bukti-bukti lain, sedangkan perkiraan ia dimutilasi dan potongan jasadnya dikubur di suatu tempat di wilayah Turki semakin menguat.

Bukti keterlibatan aparat Saudi juga secara implisit akhirnya diakui oleh pemerintah kerajaan itu dengan dipecatnya 18 anggota dinas rahasia yang diduga terlibat pembantaian, walau mereka bersikeras, para tersangka akan diadili di dalam negeri, kemungkinan agar dalangnya tetap terselamatkan, dan hukuman hanya dikenakan terbatas pada eksekutor di lapangan.

Pemerintah Jerman mendesak Uni Eropa untuk menyatukan langkah pengenaan sanksi pembatalan kontrak penjualan senjata milyaran dollar AS terhadap Arab Saudi, walau Perancis masih keberatan jika harus menyetop pengembangan pesawat tempur yang semula ditujukan untuk ekspor, termasuk ke Arab Saudi bernilai 13,8 milyar dollar (sekitar Rp213,9 triliun).

- Advertisement -