KUMBAYANA NUGRAHA

32 views
Pendita Durna bersedia diangkat jadi dewa, tapi harus dibebaskan pula dari kematian.
- Advertisement -

BERDASARKAN sensus penduduk kahyangan 2018, dewa di Jonggring Salaka itu sangat banyak, berjuta-juta jumlahnya. Tapi yang terkenal dan sering muncul di publik hanya belasan saja, misalnya SBG (Sanghyang Betara Guru), Betara Narada patihnya kahyangan Jonggring Salaka, Betara Wisnu, Betara Penyarikan, Betara Indra, Betara Bayu, Betara Brama dan Betara Kamajaya yang sering jadi model iklan bersama Dewi Ratih istrinya, karena berwajah tampan dan cantik.
Sejumlah dewa juga ditunjuk menjadi Komisi Hukum di Jonggring Salaka. Rakyat ngercapada yang bermasalah, bisa menggugat di sini dan keputusannya bersifat mengikat. Tapi karena kasus suap, Betara Gana dipecat beberapa waktu lalu. Dan kini SBG memandang perlu mengangkat dewa baru masuk dalam Komisi Hukum. Sayangnya, jumlah dewa yang berpendidikan hukum sangat terbatas, sehingga untuk menambah satu dewa anggota Komisi Hukum saja kerepotan.
”Jika memang berprestasi, makhluk ngercapada boleh saja kita angkat jadi dewa dan masuk ke dalam Komisi Hukum.” usul SBG pada sang patih Narada.
”Tapi nanti dia menuntut fasilitas macam-macam, minta disetarakan dengan dewa.” jawab Patih Narada agak khawatir.
”Itu sebuah keniscayaan, kakang Narada. Tapi kita coba saja.”
Dari sekian tokoh di ngercapada, SBG menilai hanya Pendita Durna dari Universitas Sokalima Beragama (USB) yang layak jadi pengisi formasi di Jonggring Salaka. Di samping cakap ilmu kebatinan dan kanuragan (kesaktian), lulusan Universitas Gajah Mungkur Wonogiri ini juga menguasai ilmu hukum dan hafal KUHP warisan Belanda itu. Yang lebih penting, dia tak punya istri sehingga tak perlu memboyong bininya ke Jonggring Salaka.
Mestinya, pengangkatan anggota Komisi Hukum harus melalui seleksi Dewan Jabatan di Jonggring Salaka yang dikepalai Betara Tembara. Tapi karena kondisi mendesak, SBG langsung main tunjuk saja. Hari itu juga Durna dikirimi WA agar segera berangkat ke Jonggring Salaka untuk menjadi anggota Komisi Hukum. Resikonya, jabatan Rektor USB harus dilimpahkan ke orang lain.
”Saya mau saja pukulun, tapi harus menerima fasilitas yang sama seperti dewa
pada umumnya.” kata Pendita Durna begitu menghadap SBG di Bale Marcakunda.
”Itu otomatis. Kamu dapat kendaraan, perumahan, gaji dan tunjangan yang sangat layak.” penjelasan Patih Narada.
Ternyata bukan itu. Pendita Durna minta juga fasilitas bebas kematian seperti dewa pada umumnya. Artinya, dia akan hidup sepanjang masa di Jonggring Salaka. SBG pun menawar, ditambah usia 100 tahun. Tapi Durna bergeming, dia minta perlakuan setara dengan dewa-dewa di kahyangan. Karena tenaga Pendita Durna sangat dibutuhkan, akhirnya tuntutan Pendita Durna dikabulkan.
Untuk bisa menjadi dewa bebas kematian, Pendita Durna diberi memo agar menghadap Betara Yamadipati, minta file tentang jatah umur Durna didelet menjadi sepanjang masa. Bergegaslah Pendita Durna menemui dewa pencabut nyawa itu. Ternyata, resminya jatah usia Durna tinggal 5 tahun lagi. Dia akan mati pada Perang Baratayuda Jayabinangun.
”File tentang kamu sudah dihancurkan. Kamu akan jadi satu-satunya wayang
ngercapada yang bebas kematian. Selamat ya….,” ujar Yamadipati menyalami Durna.
”Terima kasih, pukulun. Nanti saya bisa kawin sama bidadari, ya? Saya pengin menikahi Dewi Mumpuni, tuh.”
”Hussy, ngawur saja kamu. Baca mbah Google, itu biniku, tahu? Masak kamu inceng juga….!” hardik Betara Yamadipati.
Demikianlah, Pendita Durna telah resmi menjadi dewa kahyangan dengan nama: Sanghyang Betara Kumbayana SiP (Sarjana Ilmu Perdukunan). Tugasnya mengadili para titah ngercapada yang berdosa pada dewa. Durna ikut pula menentukan apakah wayang titah ngercapada itu layak masuk surga atau neraka kawah Candradimuka. Penampilannya kini juga sangat beda. Seperti lazimnya dewa, kini sorban Sangyang Kumbayana juga diganti dengan kethu mirip tutup teko penahan panas.
Bahkan karena jabatan itu pula, Sanghyang Betara Durna punya mengubah hukuman wayang yang tengah menjalani hukumannya. Prabu Sentanu misalnya, dia yang sudah bulukan menghuni Kawah Candradimuka, dipindahkannya ke surga kahyangan. Sebaliknya Patih Gandamana yang sudah berada di swarga pangrantunan, ditariknya dan dijebloskan ke neraka. Durna memang sengaja mau balas dendam. Dulu tubuhnya menjadi rusak gara-gara dihajar Gandamana saat dia jadi patih di Pancala.
”He Durna kupret! Jadi dewa nggak boleh balas dendam,” protes Gandamana.
”Prekkkk! Memangnya gue pikirin…..!” jawab Durna acuh tak acuh.
Berita Durna diangkat jadi dewa kahyangan, sangat disyukuri keluarga Ngastina, begitu juga Ngamarta. Mereka ikut bahagia bahwa mantan guru mereka sudah dapat kepercayaan jadi dewa. Ini namanya kanugrahan yang harus disyukuri. Saat muda bernama Kumbayana sangat menderita, kini sudah menjadi wayang paling bahagia.
Tapi tidak dengan generasi muda Pandawa seperti Antaseno, Wisanggeni dan juga Sadewa. Mereka menilai, SBG sangat berlebihan dan melanggar konstitusi. Kenapa potong kompas saja tanpa lewat uji kelayakan di Jonggring Salaka. Lagi pula track record Pendita Durna sangat memalukan dan mengecewakan.
”Masak pendidik yang terlibat mesum dengan kuda, dipromosikan jadi dewa.” kritik Antaseno lantang, membuka kasus lama.
”Ini sangat cacat hukum, sebaiknya kita PTUN (Peradilan Tata Usaha Ngondar-andir Bawana) saja, biar kapok.” tambah paman mereka, Sadewa.
Diam-diam mereka memasukkan gugatan kepada Sanghyang Wenang di Ngondar-andir Bawana, dewa pintu terakhir di bidang hukum. Maka namanya Sanghyang Wenang, karena dia memang sangat berwenang menentukan nasib dewa dan umat di ngercapada.
Ternyata gugatan generasi muda Pandawa itu dikabulkan seluruhnya, sehingga mau tak mau SBG harus mengeksekusi keputusan PTUN tersebut. Yang kasihan tentu saja Sanghyang Durna, baru saja bertugas dan menikmati segala fasilitasnya, mendadak harus tunduk pada keputusan PTUN, yang berarti harus kembali ke ngercapada jadi manusia biasa lagi. Padahal jabatan rektor USB sudah diambil oleh Aswatama, meski putra sendiri.
”Pukulun SBG, saya protes nih. Kenapa diam saja terima vonis Hyang Wenang?
Naik banding dong. Saya kan sudah kadung kehilangan jabatam rektor.” ujar Hyang Betara Durna keras.
”Sori Durna, saya tak kuasa melawan. Kamu harus kembali jadi manusia biasa, dan akan mati 5 tahun lagi.” jawab SBG malu-malu. (Ki Guna Watoncarita)

- Advertisement -