GUWARSO – GUWARSI

27 views
Resi Gotama menasihati ketiga putranya untuk bertapa dengan gaya masing-masing.
- Advertisement -

RESI Gotama memang sosok wayang yang kelewat jujur. Setelah pensiun jadi pejabat di negeri Lokapala sekian puluh tahun lalu, dia pulang kampung tanpa membawa harta yang berarti. Dengan uang Taspen yang dimiliki, di Gunung Sukendra tempat asalnya dia lalu membuka perguruan ilmu kebatinan dan kanuragan (kesaktian). Lagi-lagi Resi Gotama memang bukan wayang mata duitan, meski perguruan swasta dia tak cari kesempatan mengeruk kantong mahasiswa.

“Kok nggak mungut uang gedung sebanyak mungkin, Mbah?” tanya wartawan.

“Yang menghisap darah mahasiswa biarlah perguruan negeri saja. Di sini, mahasiswa pinter bisa studi gratis,” jawab Resi Gotama.

Karena kampus tidak mata duitan, Resi Gotama dalam usia tua dewasa ini juga tetap miskin tak punya aset berharga. Maka setelah menikahi Dewi Windradi dan punya tiga anak, dia tak bisa memanjakan keluarganya. Sikecil Anjani – Guwarso – Guwarsi dulu tak pernah kenal permainan elektronik Nitendo dan sejenisnya, kecuali hanya othok-othok, gasing dan nekeran (kelereng).

Oleh karena itu, dalam hati kecilnya Resi Gotama sebenarnya bisa memahami, kenapa Dewi Windradi mau menerima pemberian mainan mahal made in kahyangan seperti “Cupu Manik Astagina” tersebut. Yang tak bisa dipahami sekaligus menginjak harga diri, kenapa untuk membahagiakan anak-anaknya Windradi harus membarter dengan tubuhnya. Ah, tapi semua sudah terlambat. Istri tercinta yang pernah diobok-obok Bethara Surya, kini sudah menjelma jadi tugu yang diam membisu.

“Wahai anak-anakku, sekarang tidak perlu sedu sedan itu…..,” kata Resi Gotama. Saking harunya, mendadak dia jadi puitis meniru penyair Chairil Anwar.

“Ya engku, eh ayahku,” jawab Anjani – Guwarso – Guwarsi serempak. Gayanya mirip Tuti-Amir –Sudin dan Muntu dalam buku Bahasaku karya BM. Nor.

- Advertisement -