Penjara, Nunggu Kapan Lagi Dibenahi?

111 views
Napi LP Banda Aceh kabur yang ditangkap. Berkali kali napi kabur dari berbagai lapas. Perlu pembenhan lapas secara komprehensif.
- Advertisement -

KASUS napi kabur yang seolah tidak habis-habisnya namun belum membuat Kementerian Hukum dan HAM terutama Ditjen Lapas tergerak melakukan pembenahan secara komprehensif.

Yang baru saja terjadi di Lembaga Permasyrakatan (Lapas atau LP) Kelas IIA Banda Aceh, kaburnya 113 napi pada 3 Desember lalu dengan membobol pagar dan jendela, dan sampai hari ini baru 35 napi yang tertangkap, selebihnya 78 napi masih diburu.

Sebelumnya pada Januari 2018, di Lapas yang sama, sejumlah napi mengamuk dengan membakar ruangan Lapas dan mobil petugas dipicu oleh aksi napi narkoba yang menolak dipindahkan ke Lapas di Medan.
Pada 2017 tercatat al.l. dua napi kabur dari LP Nusakambangan (21/1), enam napi LP Abepura, Papua (19/2), bentrokan antara napi yang menolak razia narkoba dan petugas LP Jambi (1/3), enam napai kabur dari LP Pariaman (15/4), kerusuhan antar napi di LP Bengkulu (4/5), 448 napi kabur dari LP Sialangguguk, Pakanbaru (5/5) dan tiga napi terpidana mati kabur dari LP Makasar (7/5).

Dosen FISIP Universitas Syah Kuala, Aceh Aryos Nivada mendesak agar pembenahan LP segera dilakukan, mulai dari peningkatan integritas dan kualitas SDM di lingkup Lapas dan Rutan serta sistem keamanannya.

Menurut dia,kaburnya 113 napi dari LP Banda Aceh baru-baru ini hendaknya menjadi pintu masuk bagi Kemenkumham untuk berbenah diri melakuan perombakan sistem dan juga membuka hasil penyelidikan agar diketahui publik.

Kaburnya napi terutama terjadi akibat kapasitas lapas atau rutan yang sudah tidak mampu menampung tahanan atau napi, ditambah dengan sedikitnya jumlah sipir penjara yang mengawasinya, belum lagi akibat adanya kasus suap terkait fasilitas lapas.

Saat ini ada 517 lapas di seluruh Indonesia, dari idealnya diperlukan 1.000 lapas untuk menampung sekitar 217.000 warga binaan (napi atau tahanan), sedangkan tenaga sipir (petugas keamanan lapas atau rutan) hanya 14.600 orang.

- Advertisement -