Macron Takluk pada Tekanan Massa

577 views
Demo kelompok "rompi kuning" menolak kenaikan pajak BBM di dekat monumen Arc de Triomphe, Paris yang berujung rusuh, Sabtu lalu. Presiden Emmanuel Macron terpaka menuruti tuntutan mereka.
- Advertisement -

“VOX POPULI, populi, vox dei” atau bahasa Indonesianya “Suara Rakyat, Suara Tuhan” ungkap pameo lawas, yang paling tidak tercermin dengan tunduknya Presiden Perancis Emmanuel Macron oleh penolakan rakyatnya atas rencana kenaikan pajak bahan bakar.

Macron yang pernah sesumbar tidak akan pernah menyerah dari tekanan massa, memutuskan untuk menunda rencana kenaikan pajak bahan bakar setelah Perancis dilanda gelombang aksi unjuk rasa sejak medio November lalu yang berujung kerusuhan, vandalisme dan penjarahan di Paris, Sabtu (1/12).

Rencana menaikkan pajak bahan bakar tersebut berdampak pada harga bahan bakar yang juga akan dinaikkan sekitar empat sen Euro per liter mulai awal 2019 yang salah satu alasannya untuk menekan pemanasan global.

Kenaikan harga BBM dirasakan memberatkan warga yang tinggal pinggiran kota aau di luar kota-kota besar yang sehari-harinya biasa menggunakan kendaraan pribadi. Mereka menilai, Macron tidak berpihak pada nasib rakyat.

Aksi unjukrasa mulai digelar sejak pertengahan November lalu oleh kelompok pemilik kendaraan bermotor yang mengenakan rompi kuning sehingga dijuluki“ gerakan rompi kuning” .

Aksi unjukrasa kemudian meluas dengan bergabungnya kelompok masyarakat yang menolak kebijakan reformasi termasuk untuk mengubah UU perburuhan. Semula, aksi yang digelar tiap akhir pekan berlangsung damai, namun berbeda dengan yang terjadi Sabtu (1/12) lalu.

Kota Paris yang mewakili wajah peradaban Eropa dipenuhi onggokan mobil dan motor yang dibakar massa, tembok-tembok dipenuhi corat-coret, termasuk gerbang kemenangan “Arc de Triomphe” yang menjadi icon kota tersebut. Sejumlah gerai parfum tersohor seperti Dior dan Channel dirusak, dan dilaporkan terjadi penjarahan pada sejumlah toko.

Ribuan pengunjukrasa yang hendak menuju gedung parlemen dihadang oleh pasukan huru-hara. Aksi unjukarasa terus berlangsung hingga Senin (3/12).

- Advertisement -