SESAJI RAJA SINGA

190 views
- Advertisement -

“Kamu kerja yang bener dong, masak cari 1.000 kepala raja saja susah.” Tegur Prabu Singamalangyuda keras.

“Maaf Boss. Ini kan tanggal tua, saya nggak berani jalan jauh-jauh, takut kehabisan transpor. Maka kartu kredit sudah diblokir lagi”

Sebetulnya, untuk mencapai target 1.000 kepala raja, Prabu Singa Malangyuda telah memberikan perangsang atau remunerasi kepada rakyat. Barang siapa mampu setor satu kepala raja, akan diberi tunjangan tambahan Rp 100 juta. Namun kata rakyat, memangnya cari kepala raja semudah mencari kepala ayam atau buntut tikus? Kalau itu sih,  sehari 100 juga bisa.

Belum juga selesai Prabu Singa Malangyuda nguman-uman (ngomel) pada sang mahapatih, tiba-tiba datang Setyaki dan langsung klaim atas pencaplokan nama tanpa izin. Kesatria Garbaruci itupun mengancam, jika tak melepas nama itu, akan digugat ke pengadilan. Tapi ternyata Prabu Singa Malangyuda tiada gentar sama sekali.

“Saya sudah coba test di Google, saya ketik nama Singa Mulangjaya, nggak muncul. Berarti belum ada yang punya dong.”

“Internetmu sudah diblokir Rudiantoro, tahuk!” kata Setyaki kesal  dan langsung main gebuk pada Prabu Singa Mulangjaya.

Setyaki lupa bahwa belum tahu akan kesaktian si raja berkepala singa ini. Maka begitu dibalas dengan brakotan (gigit) pada kepala, Setyakipun tewas. Kalau dia raja, mestinya langsung jadi penambah target. Tapi karena dia hanya wayang biasa, jadi Pak RW juga belum pernah, kepalanya dibuang begitu saja.

Nasib malang Setyaki terdengar juga rupanya oleh Prabu Kresna yang tengah pergi ke Suralaya, menghadap Sangyang Betara Guru (SBG) bersama Semar. Melihat perubahan situasi yang demikian cepat, Semar segera diminta meluncur ke Tunjung Baribin, sementara Kresna terus berusaha ketemu penguasa dewa di Kahyangan. Ternyata SBG tak di tempat. Kabarnya dia sedang mengurus Betara Surya yang terlibat manipulasi proyek e-KTP di ngercapada.

- Advertisement -