Pesawat N219 Amfibi, Perekat Nusantara

208 views
Ilustrasi pesawat amfibi N219A yang dikembangkan PT LAPAN dan PT Dirgantara Indonesia dan diharapkan sudah beroperasi dalam penerbangan antarpulau pada 2023.
- Advertisement -

WILAYAH Indonesia terdiri dari belasan ribu gugusan pulau dikelilingi laut memerlukan sarana transportasi untuk berbagai keperluan misalnya wisata, patroli, evakuasi medis serta angkutan manusia dan barang.

Hal itu agaknya yang mendasari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk mengembangkan varian pesawat N219 yang sudah dioperasikan menjadi pesawat amfibi atau N219A.

Jenis pesawat amfibi sudah ada sejak era Perang Dunia II lalu, bahkan AURI (sekarang TNI-AU) pernah memiliki pesawat amfibi PBY Catalina buatan AS yang digunakan untuk menerobos blokade Belanda di era pasca kemerdekaan RI pada 1947.

Berbagai varian Catalina buatan Consolidated Aircraft, AS yang terbang perdana pada 1935 banyak digunakan oleh negara itu dalam PD II untuk sebagai pemburu kapal selam, pengintai dan operasi SAR.

Presiden Soekarno kabarnya juga sering menaiki pesawat Catalina AURI saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah pulau-pulau pada periode antara 1950 hingga 1956.

Saat ini N219A sedang dalam proses sertifikasi yang diharapkan rampung pada pertengahan 2019 dan kemudian setelah itu diharapkan sudah bisa melakukan terbang perdana sekitar 2022 dan 2023.

Menurut Manager Proyek N219A PT DI Budi Sampurno, dalam kurun 10 tahun ke depan, diperkirakan Indonesia memerlukan 37 pesawat amfibi untuk menunjang program pengembangan 10 destinasi wisata dan 14 buah untuk pemda dan kegiatan perusahaan gas dan minyak bumi.

Selain itu, permintaan diharapkan juga meningkat untuk berbagai keperluan, misalnya angkutan pasien darurat di wilayah pulau-pulau, juga angkutan manusia dan barang antarpulau.

Untuk memiliki kemampuan pendaratan di laut, N219 dilengkapi dengan pelampung (float). Saat ini sedang diujicoba pelampung buatan AS yang terbuat dari aluminium dan juga pengembangan pelampung dari bahan komposit buatan dalam negeri.

Bedanya, dengan pelampung buatan AS yang berbobot sekitar satu ton, kapasitas harus dikurangi dari 19 penumpang, sedangkan dengan bahan komposit, jumlah penumpang bisa dipertahakan tanpa mengganti mesin dengan kekuatan lebih besar.Penggantian mesin juga akan menambah beban biaya dan juga waktu karena harus menjalani proses uji coba dari awal lagi.

- Advertisement -