Mengejar Pahala ke Lampung Selatan

76 views
- Advertisement -

KUNJIR – Hanya duduk sebentar dan menaruh tas geblok yang di sandangnya di Pos Dompet Dhuafa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Rabu (26/12/2018). Bojeks, tim evakuasi dari Dompet Dhuafa yang memiliki keahlian water rescue di Disaster Management Center Dompet Dhuafa ini langsung tidak tahan untuk berangkat ke lapangan.

Ia terlihat gelisah melihat puing- puing yang masih banyak berserakan berada di depan rumah penduduk dan fasilitas umum.

“Ayo kita turun,” katanya kepada Hendi, dari DMC Dompet Dhuafa, yang bersamanya baru datang dari Jakarta.

Bojeks mengeluarkan helm dari tasnya dan memakai APD lainnya. Ia meminjam motor milik Dompet Dhuafa Lampung dan langsung berangkat memboncengi Hendi ke wilayah terdampak.

Sepanjang jalan Bojeks mengamati, sampai perhatiannya tertuju pada sebuah alat berat yang dikomandoi tentara sedang melakukan evakuasi di wilayah Kunjir, Ia memarkirkan motornya dan Bojeks langsung menghampiri tentara tersebut.

Berbicang sedikit dan bersalaman, Bojeks lalu dipersilahkan membantu. Ketika Bojeks melihat tikar shalat yang akan digaruk escavator, Bojeks mengangkat tangan. Operator escavator menghentikan sejenak, Bojeks langsung mengambil tikar tersebut dan menyingkirkan ke pinggir. Berkali- kali Bojeks menghentikan Escavator untuk menyelamatkan barang-barang yang berguna itu. Sisanya escavator itu menggaruk semua puing yang menumpuk karena tsunami Selat Sunda, 22 Desember 2018 itu.

Bojeks berasal dari Sumatera Barat, ia anak bungsu dari dua bersaudara. Saat ini, ibunya sedang sakit gagal ginjal dan sekali seminggu harus cuci darah. Biasanya Bojekslah yang mengantar orang tuanya ke rumah sakit. Meski sakit, ibunya selalu mendorong Bojeks untuk berangkat menjadi relawan dimana pun itu berada. Ibunya sudah tahu Bojeks pasti gelisah kalau mendengar bencana dan ingin segera jadi relawan di sana. Ia memang sudah jadi relawan sejak sekolah dulu. Ketika Bojeks berangkat kakaknyalah yang memgawasi ibunya.

- Advertisement -