Pos Hangat Jadi Pelipur Lara Penyintas Desa Kunjir

44 views
POS HANGAT - Dompet Dhuafa mempersembahkan pos hangat di pos pengungsi Desa Cugung, Foto: Maifil/KBK
- Advertisement -

CUGUNG – Pagi sekali para penyintas dari Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, sudah sibuk bergotong royong membersihkan sekitar gedung Majelis Taklim Desa Cugung yang dipakai untuk mengungsi sejak malam Tsunami Selat Sunda yang memporak-porandakan Desa Kunjir, 22 Desember 2018 lalu .

Di dalalam ruang terpampang spanduk Pos Hangat Dompet Dhuafa, di bawahnya tersedia termos air panas dan berbagai jenis minuman seperti kopi, teh, susu dan kopi sasetan dilengkapi gula serta gelas dan sendok penyeduh. Juga tersedia camilan yang dapat dinikmati oleh pengungsi.

Di gedung ini ada 40 KK penyintas yang tadinya berumah di pinggir pantai sekira 1 km dari Desa Cugung ini. Dari 40 KK tersebut ada 7 rumah yang dimiliki penyintas yang hancur. Sisanya rusak ringan dan lainnya hanya terdampak banjir.

Abas,43 tahun, Penyintas Desa Kunjir. Foto: Maifil/KBK
Seperti dikisahkan Abas, 43, Ketua RT 10 di Desa Kunjir yang juga didaulat menjadi kepala pengungsi, lebih banyak dari kami mengungsi di sini karena trauma tsunami.

“Kalau rumah yang rusak dan yang tidak bisa digunakan lagi hanya 7 rumah. Jadi kalau malam kami tidur di sini dan kalau siang dan tidak hujan kami kembali ke rumah untuk bersih-bersih bekas banjir tsunami,” ujar Abas.

Meskipun kebanyakan rumah tidak rusak, namun penyintas belum bisa beraktivitas normal karena bencana ini, sehingga makanan masih tergantung pada dapur umum di Desa Cugung.

“Alhamdulillah bantuan sudah banyak, makanan, pakaian dewasa dan anak-anak sudah banyak. Posko kesehatan Puskesmas juga dekat. Hanya saja kami kekurangan selimut, pakaian dalam dewasa dan handuk,” terang Abas.

Sekarang musim hujan, sejak bencana terjadi hujan tidak berhenti turun. ” Kami sangat sulit untuk beraktivitas membersihkan rumah, apalagi kalau melihat air laut pasang kami juga trauma dan takut pulang ke rumah,” terang Abas.

Kondisi dingin dan lembab karena hujan, Abas berterimakasih dengan kehadiran Pos Hangat dari Dompet Dhuafa yang hadir di ruangan pengungsi.

“Bagi yang mau menghangatkan badan, ngeteh, dan makan camilan sudah tersedia. Kami sangat terbantu sekali dan menjadi hiburan tersendiri bagi kami,” pungkas Abas.

Abas sendiri, baru pulang ke Desa Kunjir, kampung isterinya, 2007 lalu. Ia kerja serabutan meski dipercaya menjadi ketua RT. Ia harus meninggalkan Tangerang tempat dulu ia bekerja menafkahi dua anak dan satu isterinya. Ia berhenti berkerja karena isterinya juga di PHK dan mereka sepakat untuk pulang ke Kunjir.

Bencana Tsunami ini membuat ia trauma dan memikirkan nasib keluarga setelah ini. Untuk tinggal di pinggir pantai seperti sebelumnya ia merasa trauma. Apalagi Gunung Anak Krakatau yang terlihat jelas dari rumah tidak berhenti melihatkan lava pijar dan jerebu asapnya, membuat jantung kadang berdegub kencang. Namun ia bisanya pasrah dengan keadaan.

- Advertisement -