Saking Traumanya Haeruddin, Gemuruh Truk Tentara Disangka Bencana

147 views
Haeruddin, 48, masih trauma dengan suara tsunami. Foto: Maifil/KBK
- Advertisement -

WAY MULI – “Sreeeg… Sreeeg…”, iringan truk tentara yang melakukan respon bencana, melewati depan rumah Haeruddin, 48 tahun, di RT003/RW02, Dusun Satu Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Haeruddin yang lagi asyik mengobrol dengan teman-teman mendadak mengambil langkah untuk lari. Beberapa langkah bergerak ia tersadar, Sreeeg itu bunyi truk.

“Astagfirullah, itu bunyi truk bukan bencana tsunami,” gumamnya dalam hati.

Agaknya Haeruddin masih trauma dengan tsunami yang meluluhlantakkan kampungnya Way Muli, Pukul 21.30 WIB, Sabtu (22/12/2018) itu. Rumahnya berhadapan dengan pantai, ia menyaksikan dengan matanya sendiri ketika air itu menerjang rumah-rumah di seberang rumahnya yang membelakang ke pantai. Semuanya hancur.

Syukur rumah Haeruddin yang berada di seberang jalan ada diposisi agak tinggi, ombak stunami hanya sampai di tangga ketiga rumahnya setelah dihalangi rumah-rumah sebelumnya yang dihancurkan. Hanya saja Warnet dengan dan warung sembako miliknya yang berada di depan rumah persis di pinggir jalan, hancur seluruh isinya, kendatipun demikian bangunannya masih tetap kokoh berdiri dan masih layak digunakan.

“Saya, kalau mendengar truk tentara melaju kencang, saya secara refleks, ingin langsung lari. Suara itu menyiksa saya, mungkin juga korban tsunami lainnya. Karena suara Sreeeg… yang keluar dari truk yang melaju kencang itu persis dengan suara ombak tsunami yang menghantam pemukiman kami ketika malam naas itu,” jelas Haeruddin yang berprofesi sebagai kepala sekolah di desa tengga kampungnya.

Haerudin mengaku, tidak takut dengan dentuman yang keluar dari Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi. Tapi, kalau mendengar suara sreeg.. seperti bunyi truk besar yang melaju kencang, ia langsung menggigil dan berkeringat dingin dan reflek untuk lari.

Entah sampai kapan Haerudin akan merasakan trauma itu, terkadang ketika ia sedang berbicara dengan orang lain tiba-tiba ia bengong dan kembali tersadar ketika dicolek oleh lawan bicaranya itu. Kalau Haeruddin lagi sendiri, ia berusaha mencari kesibukan dengan gawai pintar yang ia pegang. Ia browsing dan memainkan beberapa aplikasi untuk mengalihkan perhatian.

Ketika relawan kemanusiaan sudah mulai masuk, Haeruddin merelakan rumahnya dipakai untuk Pos Kesehatan dan Logistik Dompet Dhuafa. Relawan dipersilahkan memakai rumahnya sebebas-bebasnya sebagaimana berada di rumah sendiri.

Hanya saja kalau malam hari, Haeruddin masih menginap bersama keluarga (Haerudin, isteri dan 4 anak) ke atas bukit yang berada di belakang rumahnya. Kalau malam hari relawan mau menginap di rumahnya ketika ia mengungsi, ia persilahkan.

“Kalau mau menginap di sini silahkan, tapi kami sekeluarga mengungsi,” ungkapnya sambil menyerahkan kunci. Tapi agaknya relawan tidak mau menanggung risiko, sehingga sama dengan Haeruddin, kalau malam relawan kembali ke Pos Inti di Kalianda untuk beristirahat.

Haeruddin mengungkapkan dengan senang hati menerima relawan di rumahnya, karena dengan kehadiran relawan Dompet Dhuafa ia merasa nyaman dan merasa ada teman. Sehingga secara mental ia menjadi kuat karena tidak merasa sendiri. Meskipun teror suara sreeeg itu belum juga hilang dari pikiriannya dan selalu menghantui hari-harinya.

- Advertisement -