Nenek Lemas, Syahroni Cemas

49 views
Nek Aisyah, 70 sedang dikunjungi dr. Putra Relawan Dompet Dhuafa. Foto: Maifil/KBK
- Advertisement -

WAY MULI – Syahroni, 30 tahun, lari bergegas dengan penuh cemas manyampaikan kepada tim kesehatan Dompet Dhuafa di Way Muli, bahwa neneknya mendadak lemas.

“Mana dokter.. mana dokter, saya butuh bantuan, nenek saya lemas, ” ungkap Syahroni tergopoh-gopoh dan dengan muka mimik cemas di Pos Kesehatan Dompet Dhuafa di Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, Sabtu (29/12/2018).

Dokter Khairun Putra, yang lagi standby di Pos Kesehatan turun bersama perawat Rendi, ke rumah Syahroni.

Sesampai di rumah, terlihat Nek Aisyah mengerang kesakitan. Ia memegang perutnya. Menurut cucunya Syahroni dari pukul 5 sore kemarin tidak berhenti diare.

“Saya cemas, karena saya hanya sendiri merawat nenek. Sudah 10 tahun saya merawat nenek sendiri. Ibu dan bapak saya sudah meninggal 10 tahun lalu,” melas Syahroni, berharap doker segera menangani penyakit neneknya.

Sementara itu adiknya yang perempuan Ariati, 25, ikut suaminya ke Desa Pancuran, Rajabasa, agak jauh dari Way Muli dan adik laki-lakinya Syarif Hidayat, 20, berkerja di kapal roro, penyebarangan Bakauheni – Merak.

“Mereka jarang pulang, kemarin aja pulang setelah tsunami. Itu pun sebentar, melihat nenek dan memastikan kami aman, mereka kembali lagi, ” jelas Syahroni.

Ketika Tsunami Selat Sunda Sabtu malam (22/12/2018), Syahroni menggendong neneknya ke atas bukit untuk menyelamatkan diri. Alhamdulillah, ia selamat dan rumahnya juga tidak begitu terdampak hanya kena banjir saja, karena memang posisi rumahnya meski di pinggir jalan gang, rumahnya di kelilingi rumah-rumah lainnya yang kokoh.

Karena Syahroni hanya berdua saja dengan nenek, ketika neneknya sakit diare begini ia cemas sekali. Ia sangat menyayangi neneknya, dan dialah satu-satunya yang tertinggal sejak ayahnya Ratim, 50, dan ibu Marsinah, 40 tahun meninggalkan ia dan nenek untuk selama-lamanya. Ibu dan bapaknya meninggal hanya berselang setahun, bapaknya duluan.

Di saat ibunya meninggal, Syahroni tidak sempat melepasnya, karena ia sedang berkerja di Pulau Jawa sebagai kuli bangunan memasang atap. Sejak ibunya meninggal ia kembali ke kampungnya untuk menjaga neneknya. Ia tidak mau lagi kehilangan sosok perempuan yang dulu mencurahkan kasih sayang kepadanya di waktu kecil.

Setelah diperiksa dr. Putra, ia disarankan untuk memberi makan neneknya bubur saja karena nenek sudah tidak punya gigi dan sangat sulit mencerna makanan dan apalagi makan dari makanan dapur umum terkadang menunya kurang cocok untuk nenek.

“Jadi masak sendiri bubur, kemudian dikasih ke nenek sedikit demi sedikit, kasih satu sendok hentikan sebentar lagi baru kasih lagi,” kata dr. Putra.

Kemudian dr. Putra meminta Syahroni untuk kembali ke Pos Kesehatan Dompet Dhuafa untuk mengambil obat untuk nenek. Syahroni senang, dan air mukanya terlihat berseri iapun mengungkapkan terimakasih.

- Advertisement -