Hari-hari Kelam Wartawan Bangladesh

13 views
PM petahana Banglades Sheikh Hasina Wajed, puteri proklamator dan Pesiden pertama negeri itu Mujibur Rahman, memenangi pemilu keempat kalinya (1996,2009, 2014, 2018) namun di[protes musuh bebuyutannya, mantan PM Khaleda Zia, isteri mendiang Presiden ketujuh negara itu Ziaur Rahman.
- Advertisement -

WARTAWAN Bangladesh harus berfikir masak-masak dulu untuk mengritisi kebijakan pemerintah atau mengungkapkan kecurangan dalam pemilu, jika tidak ingin mendekam di bui.

Dengan mengacu pada Undang-undang Keamanan Digital yang dinilai kontroversial oleh sejumlah kalangan, orang atau wartawan yang melanggar dengan mudah dapat dijerat dengan pasal-pasalnya.

Seperti dialami oleh wartawan Dhaka Tribune, Hedayet Hossain Mollah yang ditahan aparat kepolisian di wilayah Khulna, kota ketiga terbesar di Bangladesh, Selasa malam (1/1) karena laporannya tentang adanya kelebihan sekitar 22.400 suara dibanding jumlah pemilih terdaftar.

Mollah bisa terkena 14 tahun hukuman kurungan berdasarkan Undang-undang Keamanan Digital tersebut karena dianggap menyebarkan hoaks atau informasi bohong dengan tujuan membuat tercorengnya penyelenggaraan pemilu.

PM Sheikh Hasina (71) yang menang mutlak dalam pemilu yang digelar pada Minggu lalu (30/12) sehingga ia kembali memimpin negeri berpenduduk 165 juta jiwa itu untuk keempat kalinya, memang dikenal menggunakan tangan besi terhadap lawan-lawan politik dan media.

Fotografer kawakan Shahidul Alam juga hampir mengalami nasib sama seperti Mollah karena dituduh menyebarkan informasi bohong dalam wawancara dengan TV Al Jazeera dengan menyebut rezim Hasina menggunakan kekerasan untuk membubarkan unjukrasa massa yang menentangnya. Alam lolos dari tuntutan hukum setelah membayar jaminan.

Partai Liga Awami pimpinan PM Sheikh Hasina menang telak dalam Pemilu (30/12) berdarah yang menewaskan 17 orang tersebut dengan hampir menyapu bersih 287 dari 298 kursi di parlemen.

Kubu oposisi, Partai Nasional Bangladesh (BNP) yang dipimpin mantan PM Sheikh Khalida Zia (73) langsung menuntut pemilu ulang karena dianggap terjadi banyak kecurangan.

Panggung politik Bangladesh silih berganti diisi oleh persaingan antara Hasina, puteri tokoh pendiri negeri itu, Mujibur Rahman dan Khaleda Zia, isteri tokoh terkemuka Ziaur Rahman.

- Advertisement -