Tetap Waspadai Tsunami di Banten dan Lampung

34 views
Aktivitas Anak Krakatau masih terus berlangsung, sehingga sewaktu-waktu berpotensi terjadinya tsunami di wilayah Banten dan Lampung. Waspadalah!
- Advertisement -

PENDUDUK pesisir Selat Sunda di Banten dan Lampung selatan diminta tetap waspada mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih terus berlangsung berpotensi memicu terjadinya gelombang tsunami.

Sejauh ini tercatat 431 korban tewas, 1.485 luka-luka, 150 hilang dan dan 16.802 orang mengungsi akibat terjangan tsunami di kedua wilayah pada 22 Desember lalu dipicu oleh runtuhnya dinding Anak Krakatau ke dasar Selat Sunda.
Korban harta benda a.l 1.882 rumah, 73 hotel dan penginapan, 60 pusat kuliner, 434 perahu atau kapal nelayan, 24 mobil dan 41 sepeda motor rusak.

Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia Gegar Prasetya seperti ditulis Kompas (4/1) mengemukakan, ada 10 mekanisme erupsi vulkanik yang bisa memicu tsunami sehingga diperlukan pemantauan intensif dan kewaspadaan tinggi penduduk di Banten dan Lampung selatan.

Menurut dia, dari 10 mekanisme tersebut ada lima yang dominan yakni flank collapse atau runtuhnya lereng gunung seperti yang terjadi pada 22 Desember lalu, sedangkan mekanisme lain yakni runtuhnya kaldera, aliran awan panas dan longsoran.

Pada kasus 22 Desember lalu, lanjut Prasetya, terjadi erupsi besar di punggung Anak Krakatau yang disebut sebagai lateral blast atau letusan yang terjadi di sisi (punggung) gunung, bukan di puncaknya disertai runtuhnya sebagian tubuh gunung (flank collapse).

Ke depannya, potensi runtuhnya material yang bisa memicu gelombang tsunami masih ada, apalagi Anak Krakatau sampai saat ini masih aktif dan sedang beraktivitas membangun kembali tubuhnya.

Alat Deteksi Dini

Pemasangan alat pemantau muka air laut di tiga pulau di sekitar Anak Krakatau di P. Sertung, P. Rakata da P. Panjang, menurut Prasetya, menjadi penting, karena memberikan waktu sekitar 20 menit bagi penduduk untuk melakukan evakuasi.

- Advertisement -