China dan Taiwan Kembali Memanas

38 views
Taiwan, dikenal sebagai salah satu dari empat macan Asia selain Jepang, Korsel dan Singapura dengan sukses pembangunan ekonominya. China mendesak konsep "Satu Negara Dua Sistem" agar menyatu kembali dalam satu China.
- Advertisement -

PERSETERUAN antarnegara serumpun China Daratan dan Taiwan kembali memanas menyusul pernyataan Presiden China Xi Jinping terkait konsep “Satu Negara Dua Sistem”.

Presiden China Xi Jinping dalam pernyataan (1/1) lalu menegaskan lagi sikap negaranya, “tidak ada opsi kemerdekaan bagi Taiwan, dan cepat atau lambat harus bergabung lagi dengan Beijing”.

“Kami membuka ruang bagi penyatuan damai, tetapi tidak bagi kemerdekaan Taiwan, “ kata Xi Jinping dalam peringatan 40 tahun tawaran bersejarah yang diberikan Beijing untuk menggantikan opsi militer bagi penyatuan Taiwan dengan China.

Rezim Beijing pada 1 Januari 1979 menawarkan dialog sebagai konfrontasi militer yang telah berlangsung puluhan tahun sejak Taiwan didirikan oleh kelompok Kuomintang (KMT) pimpinan Chiang Kai-Shek yang terdesak dari China Daratan ke pulau tersebut pada 1949.

Menurut Xi, penyatuan China melalui mekanisme “Satu Negara Dua Sistem” akan menciptakan kesejahteraan dan mengamankan kepentingan rakyat Taiwan sehingga mendapatkan kedamaian abadi. “China harus dan akan bersatu sebagai syarat yang tidak dapat dipungkiri demi pembaharuan China di era kini, “ tandas Xi.

Sebaliknya, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen skeptis pada tawaran Xi dan menegaskan, ia tidak tertarik dengan konsep “Satu Negara Dua Sistem” karena rakyat Taiwan telah memilih demokrasi sebagai jalan hidupnya.

Tsai bahkan meminta dukungan internasional untuk membela demokrasi dan jalan hidup rakyat Taiwan menghadapi ancaman China dan menuding penolakan China membuka dialog dengan pemerintah Taiwan sebagai kampanye guna merusak demokrasi Taiwan.

“Jika komunitas internasional tidak mendukung negara demokratis yang berada di bawah ancaman (negara lain-red), mungkin saja aksi serupa akan dialami negara lainnya. Pertanyaannya, negara mana lagi berikutnya (yang menjadi korban-red),” kata Tsai.

- Advertisement -